Kamis, 29 Maret 2012

Sebuah Renungan :: Kisah Cinta Sejati


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya. Kenapa? Tanya mereka di hariNania mengantarkan surat undangan. Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmatihari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu. Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!


Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka. Kamu pasti bercanda! Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda. Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya. Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik! Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh? Nania terkesima. Kenapa? Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik. Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus! Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau! Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak. Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah. Tapi kenapa? Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa. Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya. Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania! Cukup! Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia. Mereka akhirnya menikah.

***


Setahun pernikahan. Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka. Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia. Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania. Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan. Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses! Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli. Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen. Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak! Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan? Rafli juga pintar! Tidak sepintarmu, Nania. Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu. Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma. Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu. Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang. Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah. Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia! Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan- alasan menjadi tidak penting. Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama. Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik ya? dan kaya! Tak imbang! Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***


Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya. Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan! Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil. Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang. Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali. Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi. Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset. Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya.

Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya. Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan. Dokter? Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar. Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat? Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri. Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir. Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat. Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis. Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka. Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker. Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***


Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang. Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli. Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra.. Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya. Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik. Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan.

Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik, "Nania, bangun, Cinta?" Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan. Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya. Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh. Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi. Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh? Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli. Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun. Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari.

Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat. Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik. Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua! Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya. Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam! Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama. Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi? Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan. Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna.

Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya. Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Rabu, 18 Januari 2012

10 Harta Karun Paling Menakjubkan Yang Pernah Ditemukan (Salah Satunya dari Indonesia)

Jika sebelumnya ada postingan tentang 10 Tempat Harta Karun Misterius Yang Belum Ditemukan Sampai Sekarang maka posting ini masih berhubungan dengan HARTA KARUN ,tapi yang sudah diketemukan/ditemukan, 10 harta karun terbesar (paling bernilai) yang pernah ditemukan.

Harta karun adalah sejumlah besar emas, perak, batu permata, uang, perhiasan, atau setiap koleksi berharga yang ditemukan tersembunyi di bawah tanah ,di gudang bawah tanah atau loteng,
Biasanya harta karun berumur cukup tua, bahkan sangat tua, dan tidak bisa dilacak siapa ahli waris yang berhak untuk memilikinya, karena telah melewati puluhan, ratusan bahkan ribuan generasi
Sepanjang sejarah ada beberapa harta karun yang luar biasa ditemukan. Ini adalah daftar dari 10 harta karun yang paling menakjubkan.


10. Harta Karun Środa – Polandia



Harta Karun Środa adalah salah satu yang paling berharga dalam penemuan arkeologi abad ke-20. Ditemukan pada tahun 1985 selama pekerjaan renovasi di Sroda Slaska, Polandia.

Bagian utama dari harta karun itu sekarang masih ada di Museum setempat.Harta karun yang ditemukan termasuk mahkota Emas,diperkirakan milik Blanche dari Valois, istri dari kaisar Charles IV, 2 liontin emas abad ke-12, dua liontin emas abad ke-13, gesper emas abad pertengahan dihiasi dengan batu mulia, tiga cincin, 39 koin emas, dan 2924 koin perak.


9. Harta Karun Panagyuriste - Bulgaria


Pada 8 Desember 1949 tiga bersaudara - Pavel, Petko dan Michail Deikovi bekerja bersama di wilayah pabrik ubin "Merul" dekat Panagyurishte. Saat memproses lapisan baru tanah liat mereka menemukan benda-benda mengkilap yang tidak biasa.
Apa yang mereka gali ternyata adalah harta karun Panagyuriste,Harta karun yang dibuat dengan sempurna dan spektakuler dari Thracian, salah satu harta yang paling terkenal di dunia.terdiri dari botol, sebuah bejana Yunani dan tujuh rhytons dengan total berat 6.164 kg emas murni. Semua benda yang kaya dihiasi dengan adegan dari mitos bangsa Thracian, adat istiadat dan kehidupan. diperkirakan dari abad 4 - 3 SM

8. Harta Karun Preslav – Bulgaria

Harta Karun Preslav ditemukan di musim gugur tahun 1978 di kebun anggur di Castana, 3 km ke utara - kota terbesar kedua Bulgaria - Veliki Preslav.
Penggalian yang dilakukan menemukan lebih dari 170 benda-benda emas, perak dan perunggu termasuk 15 koin perak milik Bizantium Constantine VII, Romawi II (945 dan 959) dan artefak lainnya yang berasal dari periode antara abad ke-3 dan ke-7.


Beberapa teknik pembuatan perhiasan yang digunakan dalam memproduksi perhiasan, kancing, dll, dalam pengaplikasian tidak terbatas dengan pengecoran dalam cetakan, toreutics, pengelasan bola emas kecil (butiran) atau kawat emas murni (kerawang), Inlays mutiara dan enamel multi-warna.



7. harta Karun Pereshchepina – Bulgaria

Harta Pereshchepina adalah deposito utama dari kekaisaran Bizantium, Sassania, dan objek Avarian dari periode Volkerwanderung .
Deposit ditemukan pada tahun 1912 di Desa Mala Pereshchepina (13 km dari Poltava, Ukraina) oleh seorang gembala laki-laki yang secara harfiah tersandung bejana emas dan jatuh ke makam Kuvrat, pendiri Agung Bulgaria dan ayah dari Asparuh, pendiri Kekaisaran Bulgaria Pertama.
Timbunan ini berisi lebih dari 800 buah. Ada 19 bejana perak dan 16 bejana emas, termasuk rhyton mencolok dan yang lain. Selain itu,dalam penemuan itu juga terdapat tongkat dari emas, pedang besi dengan ujung bawah dalam bentuk cincin dilapisi emas juga pada gagang dan sarungnya, perhiasan emas, dan banyak lagi.

6. Harta Karun Tillia Tepe – Afghanistan


Tillia Tepe adalah situs arkeologi di Afghanistan utara dekat Sheberghan, disurvei pada tahun 1979 oleh misi arkeolog Soviet Afghanistani yang dipimpin oleh Victor Sarianidi, setahun sebelum invasi Soviet terhadap Afghanistan.
Pada timbunan ditemukan koleksi sekitar 20.000 perhiasan emas di enam kuburan (lima perempuan dan satu laki-laki) dengan perhiasan yang sangat kaya, berasal dari sekitar abad ke-1 SM.Secara keseluruhan beberapa ribu keping perhiasan yang ditemukan, biasanya terbuat dari kombinasi emas, pirus dan lapis-lazuli. Ornamen termasuk koin,seperangkat kalung dengan permata, ikat pinggang, medali, dan mahkota.

5. Harta Karun Nagyszentmiklós – Rumania


Harta Nagyszentmiklós adalah koleksi berharga dua 23 bejana emas abad ke-10, ditemukan di Nagyszentmiklós, Transylvania. Harta karun, yang terdiri dari 23 bejana emas, berasal dari abad kesepuluh, ditemukan pada 1791 di sekitar kota Nagyszentmiklós (sekarang Sânnicolau Mare, Rumania).

4. Harta Karun Pietroasele - Rumania


Harta Karun Pietroasele (ditemukan di Pietroasele, Buzau, Rumania, pada tahun 1837), adalah harta karun bangsa Gothic terkahir di abad 4 yang mencakup sekitar 22 benda dari emas, di antara contoh yang paling terkenal dari gaya polikrom seni Periode Migrasi.
Dari 22 potong, hanya dua belas selamat, dilestarikan di Museum Nasional Sejarah Rumania, di Bucharest, beberapa item adalah fibula elang berkepala besar dan tiga yang lebih kecil bertatahkan batu mulia, dan Patera, atau wadah bulat tempat tumbal , dimodelkan dengan tokoh-tokoh yang tampak sebagai dewa Gothic di baju dewi Yunani mengelilingi tiga dimensi duduk di tengah.

3. Harta Karun Gourdon - Perancis


harta karun ini, digali dekat Gourdon, Saône-et-Loire, pada tahun 1845, adalah timbunan emas, yang berasal dari akhir abad kelima atau awal abad keenam, yang disimpan segera setelah tahun 524.
Ketika ditemukan timbunan terdiri dari piala (ditampilkan di atas), sebuah patena persegi panjang, juga diterapkan dengan garnet dan pirus di kompartemen cloisonne, bersama dengan sekitar 100 koin emas yang berasal dari pemerintahan kaisar Bizantium Leo I (457-474) sampai kaisar Justin I (518-527).

2. Harta Karun Tutankhamen's - Mesir


Daftar harta harun ini tidak akan lengkap jika kita tidak menyebutkan harta karun Tutankhamen.
Ditemukan di makamnya pada tahun 1922 oleh Howard Carter, di bawah sisa-sisa gubuk pekerja dibangun selama Periode Ramses, yang menjelaskan mengapa hal itu terhindar dari pemusnahan makam periode itu.


Mungkin bagian yang paling mengesankan ditemukan dalam makam Tutankhamun bukanlah topeng , meskipun itu adalah yang paling terkenal.Sebaliknya, peti mati untuk raja yang terbuat dari emas, menampilkan kualitas pengerjaan dan detail yang sangat kompleks yang tak tertandingi. Peti mati (yang di dalam) terbuat dari emas padat. panjang 190 cm, lebar 50 cm, dan tinggi 50 cm
Raja ditampilkan sebagai Osiris memegang crook dan flail, simbol-simbol tradisional kerajaan. Makam yang berisi harta karun lainnya juga, termasuk mahkota Raja.

1. Harta karun Jawa - Indonesia


Harta karun terakhir kami adalah yang paling baru ditemukan. Harta karun dari Jawa, Indonesia ini termasuk dengan 14.000 mutiara, 4.000 rubi,400 safir merah gelap, dan lebih dari 2.200 garnet. Harta ini ditemukan di sebuah kapal yang tenggelam 1000 tahun yang lalu di lepas pantai Indonesia.
Selain perhiasan, para pemburu harta karun menemukan botol parfum kecil, guci yang terbuat dari tanah liat, vas berleher ramping, dan gelas berwarna cerah dari dinasti Fatimah yang pernah menguasai Mesir kuno.
Mereka juga menemukan piring dihiasi dengan naga, burung parkit dan lainnya; porselen dengan ukiran halus-pinggiran, teko dihiasi dengan bunga teratai, dan piring seladon dengan glasir utuh. Temuan yang bernilai milyaran dolar ini, 50% untuk pemerintah Indonesia.
Penemuan Bangkai kapal yang sangat langka dari abad ke 10 ini mengisi celah besar dalam pengetahuan kita tentang periode itu.

credit : http://listverse.com/


Selasa, 17 Januari 2012

BEKSI palang pintu petukangan 1

Palang Pintu : Salah satu adat budaya pernikahan di tanah Betawi. Sekarang sudah berkembang lagi.



Rabu, 11 Januari 2012

Kekhasan Silat Golok Seliwa



Video tentang Silat Seliwa. Salah satu aliran silat yang ada di Tanah Betawi. Mari kita budayakan seni beladiri Betawi.

Silat Seliwa Jurus Tujuh dari Bambularangan

Bagi masyarakat Betawi belajar silat adalah kewajiban kedua setelah belajar mengaji yang harus dipelajari sejak masa kanak-kanak. Tak heran, ilmu silat pun berkembang di tanah Betawi dengan beragam jenisnya, mulai dari Silat Cingkrik, Silat Beksi hingga Silat Seliwa dari Bambularangan, Kalideres, Jakarta Barat. Namun, tak banyak yang tahu jika Silat Seliwa dipopulerkan oleh almarhum Haji Sama’ bin Saleh.



Konon kabarnya, Haji Sama bin Saleh ini juga keturunan langsung dari pendiri kampung Bambularangan. Beliau mewarisi aliran silat ini dari gurunya Ki Muhatim yang berasal dari kampung Gondrong, Tangerang. Tidak hanya itu, orangtua Haji Sama` adalah orang terpandang yang juga jago pukul (ahli silat) pada zamannya.

Semasa Ki Saleh masih hidup, Haji Sama` yang saat itu masih remaja bisa melakukan dan mendapatkan apa saja yang dia inginkan, tentunya karena orang sungkan terhadap kebesaran nama bapaknya. “Telunjuk gua laku, apa nyang gue pengenin gua tinggal nunjuk," ujar Haji Sama` seperti diceritakan Adam Moeslih salah satu keturunan yang masih kerabat dekat Haji Sama` kepada beritajakarta.com di pelataran halaman kantor Walikota Jakarta Barat, Selasa (11/5).

Petaka datang ketika sang ayah yang dibanggakannya meninggal dunia. Haji Sama` merasa orang sudah tidak lagi “memandang” dia. Karena peristiwa itu, Haji Sama` mulai sadar jika dia ingin disegani orang, maka dia juga harus sehebat ayahnya. Maka dengan membayar dua pikul dongkrak gabah cere dan gabah ketan sebagai jaminan, dia mengajukan diri berguru kepada Ki Muhatim, guru Silat Betawi Jurus Tujuh. Belajar pukul dilakukan di pelataran rumah Haji Jibi, sebuah rumah kebaya berundak dua yang menghadap utara, di halamannya tumbuh sebatang pohon Maja. Haji Sama` bin Saleh adalah murid yang cekatan dan berani, sehingga dengan mudah ia menyerap jurus-jurus yang diajarkan sang guru.

Di samping belajar pukul, Haji Sama` juga belajar “elmu”. Di antaranya adalah Elmu Pelamuran, konon ilmu dalem ini dimiliki juga oleh Mat Item, raja garong dari Srengseng yang tewas ditembak pasukan dari Batalion Kala Hitam atas petunjuk Ki Medo tokoh masyarakat setempat di anak kali Mookervart, Kampung Duri, setelah diburu selama tiga bulan. Satu lagi ilmu yang dikuasai Haji Sama` bin Saleh adalah Elmu Kebal Aer Keras.

Kehebatan pukul Silat Seliwa jurus tujuh pernah digunakan Haji Sama` ketika dia menerima tantangan Lurah Kosambi untuk bejaban (adu tanding). “Kepelannya segede gayung, kalo kita ampe kepukul, kita bisa kaga kena nasi tiga ari," begitu Adam menuturkan kisah Haji Sama` dengan logat Betawinya yang kental.

Jurus Seliwa peninggalan Haji Sama` di antaranya, Jurus Nampan Duit, Jurus Sosot, Jurus Ketok, Jurus Gecek, Jurus Berarak Miring, Jurus Berarak Rendah, dan Jurus Sambat.

Kini, Haji Sama` telah meninggal dunia, dan tidak semua keahlian pukul Betawi serta yang dikuasainya sempat diwariskan kepada kerabatnya. Karena sampai wafat 2 Januari 2006 silam di usia menjelang 70 tahun, Haji Sama` tidak memiliki keturunan. "Kini Silat Seliwa Jurus Tujuh sudah sedikit sekali yang masih menghapalnya, mungkin begitulah akhir dari perguruan silat yang ditinggal mati guru besarnya, lama-lama meredup dan dilupakan orang," ungkap Adam.

sumber : http://www.beritajakarta.com/2008/id/berita_detail.asp?idwil=4&nNewsId=38870#.Tw1PfZa4_pA.blogger