Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Oktober 2017

Kisah Sahabat Nabi: Abu Dzar Al-Ghifari, Tokoh Gerakan Hidup Sederhana



Ia memasuki kota dengan menyamar seolah-olah hendak melakukan thawaf mengelilingi berhala-berhala di sekitar Ka'bah, atau seolah-olah musafir yang sesat dalam perjalanan, yang memerlukan istirahat dan menambah perbekalan.

Padahal seandainya orang-orang Makkah tahu bahwa kedatangannya itu untuk menjumpai Nabi Muhammad SAW dan mendengarkan keterangan beliau, pastilah mereka akan membunuhnya.
Ia datang ke Makkah sambil terhuyung-huyung, namun sinar matanya bersinar bahagia. Memang, sulitnya perjalanan dan teriknya matahari yang menyengat tubuhnya cukup menyakitkan. Namun tujuan yang hendak dicapainya telah meringankan penderitaan dan meniupkan semangat kegembiraan.

Kamis, 22 Juni 2017

Tanda Malam Lailatul Qadar



Segala puji  bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan. Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada keluarganya dan para pengikutnya.

Semua pasti telah mengetahui keutamaan malam Lailatul Qadar. Namun, kapan malam tersebut datang? Lalu adakah tanda-tanda dari malam tersebut? Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk mendapatkan malam yang keutamaannya lebih baik dari 1000 bulan.

Selasa, 09 Mei 2017

Nabi Daud AS - Kisah Pemuda Pemberani dari Raksasa yang Zalim

Allah menjadikan Thalut sebagai pemuda yang sangat tampan dan ilmu 

Hidayatullah.com – Setelah Nabi Musa Alaihissalam (As) wafat, kaum Bani Israil (Ya’qub) kembali tertindas oleh kaum Amaliqah. Kaum ini memiliki tubuh sangat besar, kuat, dan kejam. Mereka seperti raksasa. Mereka berdomisili di daerah dekat Baitul Maqdis. Para ulama berpendapat daerah itu adalah Palestina.
Kaum Amaliqah memiliki seorang pemimpin. Namanya Jalut (orang-orang kafir menyebutnya Golied). Tingginya, menurut banyak kisah, 1 mil. Ia berasal dari dinasti Bukhtanashar.

Kaum Bani Israil amat tertindas dengan hadirnya kaum Amaliqah. Sejumlah 400 pembesar Bani Israil ditahan oleh mereka. Rakyat Bani Israil ditarik upeti yang mencekik di negara mereka sendiri.
Tak ada seorang Nabi pun di kaum Bani Israil yang lahir saat itu. Nabi Yasa’ As –generasi Nabi setelah Musa As– telah lama wafat. Hingga akhirnya seorang wanita bernama Hubla melahirkan seorang bayi bernama Syamwil. Syamwil ini diutus Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) sebagai seorang Nabi yang bertugas
melanjutkan risalah Nabi-nabi sebelumnya.

Jumat, 05 Mei 2017

Kisah Nabi SULAIMAN AS (Kuda-kuda yang berdiri di atas ketiga kakinya lagi cepat berlari)


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَوَهَبْنَا لِدَاوُدَ سُلَيْمَانَ نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ {30} إِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِىِّ الصَّافِنَاتِ الْجِيَادِ {31} فَقَالَ إِنِّي أَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَن ذِكْرِ رَبِّي حَتَّى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِ {32} رُدُّوهَا عَلَىَّ فَطَفِقَ مَسْحًا بِالسُّوقِ وَاْلأَعْنَاقِ {33} وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ {34} قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لاَّيَنبَغِي لأَحَدٍ مِّن بَعْدِي إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ {35} فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَآءً حَيْثُ أَصَابَ {36} وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّآءٍ وَغَوَّاصٍ {37} وَءَاخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي اْلأَصْفَادِ {38} هَذَا عَطَآؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ {39} وَإِنَّ لَهُ عِندَنَا لَزُلْفَى وَحُسْنَ مَئَابٍ {40}
”Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba.Sesungguhnya dia amat ta'at(kepada Rabbnya)(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya pada waktu sore kuda kuda yang berdiri di atas tiga kaki (dan mengangkat kaki yang satunya) dan cepat berlari, maka ia berkata:"Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan."Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku".Lalu ia mengusap-ngusap kaki dan lehernya". Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh(yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat. Ia berkata:"Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha pemberi". Kemudian kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakinya, dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu. Inilah anugerah kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah(untuk dirimu sendiri) dengan tiada pertanggungan jawab. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan yang dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.”(QS. Shaad: 30-40) 

Senin, 20 Maret 2017

Kisah Sang Rosul


Roohatil Athyaru Tasydu.. Fi Layaalil Maulidi..
Wa Bariiqun nuriyabduu.. Mim Ma’aani Ahmadi..
Roohatil Athyaru Tasydu.. Fi Layaalil Maulidi..
Wa Bariiqun nuriyabduu.. Mim Ma’aani Ahmadi.. (3x)
Fi Layaalil Maulidi.. (2x)

Kamis, 02 Februari 2017

Kisah Hutang Piutang antara Rasulullah SAW dan Sahabat RA


Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat.


Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi beliau sangat lemah.
Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kmdn, penuhlah Masjid dg para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dr Rasulullah SAW.

Senin, 14 November 2016

Kisah Teladan dari sang Khalifah Amirul Mukminin Syaidinna Umar Ibn Al Khattab



Pada suatu masa di zaman kekhalifahan Amirul Mukminin Syaidinna Umar Ibn Al-Khattab. Di sebuah provinsi yaitu Mesir yang kala itu dipimpin oleh seorang Gubernur yang bernama Amr Ibn Ash. Hiduplah seorang Yahudi tua yang tinggal di sebuah gubuk reot. Gubuk reot sang Yahudi tua itu bersebelahan dengan istana megah sang Gubernur.

Suatu hari, sang Gubernur hendak menggusur gubuk reot sang Yahudi tua tersebut. Beliau memandang bahwa Gubuk reot tersebut merusak pemandangan akan kemegahan dan keindahan istana sang Gubernur. Dengan dalih untuk membangun Masjid Besar proyek negara, akhirnya sang Gubernur memerintahkan aparat pemerintahan untuk menggusur gubuk reot sang Yahudi tua itu. Si Yahudi tua protes, namun apa daya dia hanya seorang tua yang miskin. Gubernur Amr Ibn Ash tidak menghiraukan protes si Yahudi tua tersebut. Harta yang paling berharganya yaitu gubuk reot yang selama ini dia tinggali ternyata digusur oleh pemimpin yang bertindak dengan sewenang-wenang.

Rabu, 24 Oktober 2012

Haji, Panggilan Allah Kepada Orang Yang Beriman



LabbaikAllahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik
Innal Hamda Wa Ni’mata Laka
Wal Mulka Laa Syarika Laka

Musim Haji datang lagi ”menyapa” umat Islam. Ibadah Haji merupakan rukun Islam ke lima. Haji adalah panggilan ALLAH SWT kepada umat manusia yang beriman. Salah satu dari 3 panggilan ALLAH. Panggilan ALLAH yang pertama adalah panggilan Sholat. Sebagaimana banyak terdapat dalam Al Quran terkait perintah Sholat. Salah satunya dalam Surah Ibrahim ayat 31 berikut :




Artinya:
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan


Jumat, 27 Juli 2012

Hal-Hal yang Diperbolehkan dalam Berpuasa

Pada bagian ini kami paparkan hal-hal yang diperbolehkan dalam berpuasa. 

1. Keluar sperma dan menyelam dalam air.
Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abdurrahman dari beberapa orang sahabat Nabi saw yang bercerita kepadanya:
"Sungguh, saya telah melihat Rasulullah saw menuangkan air ke atas kepalanya sewaktu beliau berpuasa, disebabkan haus atau kepanasan." (HR Ahmad, Malik dan Abu Daud dengan sanad yang sahih)
Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim disebutkan oleh Aisyah ra, "Bahwa Nabi saw di waktu subuh berada dalam keadaan junub, sedang beliau berpuasa, kemudian beliau mandi."
Jika kebetulan air itu masuk ke dalam rongga perut orang yang berpuasa dengan tidak sengaja, maka puasanya tetap sah.

AIR MATA RINDU


Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya.
-----
Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid.

Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah.

Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan.

Asy...hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad. ..

Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan.

Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputus. Salah satu kalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH.

Asy...ha..du. .annna...

Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh. Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong.

Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal. Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq ra. tahu. Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan.

Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah SAW berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW menjodohkannya. Saat itu Rasulullah meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, "Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya." Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak.

Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, "Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat." lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung. Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat.

Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, "Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat." Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena sudah diingatkan akan waktu shalat.

Bilal teringat, saat shalat 'Ied dan shalat Istisqa' ia selalu berjalan di depan Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah SAW. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab ra., satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih.

Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.
Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin.
----
Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad SAW, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya.

Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya. Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk. "Hanya sekali", bujuk Umar. "Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?"
Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh..

Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h

Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan.

Asyhadu anna Muhammadarrasululla h

Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata.

Hayya 'alash-shalah, hayya 'alash-shalah

Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid.

Hayya `alal-falah, hayya `alal-falah

Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya?

La ilaha illallah

Tiada tuhan selain ALLAH. Jika engkau menuhankan Muhammad, ketahuilah bahwa ia telah wafat. ALLAH Maha Hidup dan tak akan pernah mati.
----
Tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun. Sang istri di sampingnya tak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya.
"Jangan menangis," katanya kepada istri. "Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika ALLAH mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari."

Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Pria yang suara langkah terompahnya terdengar sampai surga saat ia masih hidup, berada dalam kebahagiaan yang sangat. Ia bisa kembali bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan. Ia bisa kembali menemani Rasulullah, seperti sebelumnya saat masih di dunia.

Kepada Siapa Puasa itu Diwajibkan?



Para ulama telah sepakat (ijma') bahwa puasa itu wajib atas orang Islam yang berakal, baligh, sehat dan menetap (tidak sedang bepergian). Sedangkan seorang wanita hendaklah ia suci dari haidh dan nifas.
Oleh sebab itu, tidak wajib puasa atas orang kafir, orang gila, anak-anak, orang sakit, musafir, perempuan yang sedang haidh dan nifas. Begitu pula orang tua, perempuan hamil atau yang sedang menyusui.
Di antara mereka, ada yang tidak wajib berpuasa atasnya sama sekali, seperti orang kafir atau orang gila, ada pula yang diminta agar orang tuannya menyuruhnya berpuasa (mereka adalah anak-anak), ada yang diperbolehkan berbuka dan wajib mengqadha (orang sakit dan musafir), ada yang wajib berbuka dan wajib mengqadha (perempuan yang haidh dan nifas) dan ada yang diberi keringanan berbuka, tetapi diwajibkan membayar fidyah (orang yang sudah tua-renta, baik laki-laki maupun perempuan).

Orang Kafir dan Orang Gila
Puasa itu merupakan ibadah islamiyah, sehingga tidak wajib bagi orang-orang yang tidak beragama Islam. Orang gila tidak termasuk mukallaf, karena dia kehilangan akal yang menjadi tempat bergantungnya taklif. Rasulullah saw besabda, "Pena (beban taklif) itu diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang yang gila sampai akalnya sehat, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Puasa Anak-Anak
Mengenai anak-anak -walaupun mereka tidak wajib berpuasa- sepatutnya walinya menyuruhnya agar mereka mengerjakannya, supaya mereka dapat membiasakannya dari kecil, yakni selama anak itu dapat dan mampu. Diterima dari Rubaiyi' binti Muawwidz bahwa Rasulullah saw -pada pagi hari 'Asyura- mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar untuk menyampaikan:
"Siapa yang telah berpuasa dari pagi hari hendaklah ia meneruskan puasanya, dan siapa yang dari pagi telah berbuka, hendaknya ia mempuasakan hari yang tersisa! Maka, setelah itu pun kami berpuasa, kami bawa mereka ke masjid, kami buatkan mereka semacam alat permainan dari bulu domba. Lalu, jika ada di antara mereka yang menangis karena minta makan, kami berikan kepadanya alat permainan itu. Demikianlah berlangsung sampai dekat waktu berbuka." (HR Bukhari dan Muslim).

Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Membayar Fidyah
Orang yang telah dimakan usia (tua-renta), baik laki-laki maupun perempuan, orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan orang-orang yang mempunyai pekerjaan berat yang tidak mendapatkan pekerjaan lain diberi keringanan berbuka, yakni jika berpuasa itu akan memberatkan mereka sepanjang musim dalam tahun itu. Dan sebagai tebusannya mereka wajib memberi makan seorang miskin untuk setiap hari berpuasa. Sedangkan banyaknya makanan itu terdapat perselisihan di antara ulama -karena dalam Sunnah sendiri tidak disebutkan- tetapi ada yang mengatakan 1 mud untuk 1 hari tidak puasa dan 1 mud = 6 ons makanan pokok.
Ibnu Abbas berkata, "Diberi keringanan kepada orang yang sudah lanjut usia untuk berbuka, untuk setiap harinya hendaklah ia memberikan makan seorang miskin dan ia tidak perlu mengqadha."
Bukhari meriwayatkan dari 'Atha' bahwa ia mendengar Ibnu Abbas ra membaca ayat, "Wa 'alal Ladziina Yuthiquunahu Fidyatun Tha'amu Miskiinin". (Bagi orang-orang yang sulit melakukan puasa, hendaklah membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin." (Al-Baqarah: 184)
Ibnu Abbas berkata, "Ayat itu tidaklah dinasakh/dihapus. Maksudnya adalah bagi orang tua lanjut usia, baik laki-laki maupun wanita yang telah tidak sanggup berpuasa, hendaklah memberi makan seorang miskin untuk setiap hari mereka tidak berpuasa."
Begitu pula orang sakit yang tidak ada harapan sembuh lagi dan tidak kuat berpuasa, hukumnya sama dengan orang tua-renta, tidak ada bedanya. Demikian pula halnya kaum buruh yang bergulat dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Mengqadha
Orang sakit yang masih ada harapan kesembuhannya dan musafir dibolehkan bagi keduanya untuk berbuka dan wajib mengqadha. Allah SWT berfirman, "Siapa yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan, hendaklah ia mengqadha pada hari-hari yang lain." (Al-Baqarah: 184).
Orang yang sehat yang takut akan jatuh sakit disebabkan berpuasa boleh berbuka seperti orang yang sakit. Demikian juga orang yang amat kelaparan atau kehausan hingga mungkin celaka (mati), hendaklah berbuka dan mengqadha, walaupun ia seorang yang sehat dan bukan musafir. Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadapmu." (An-Nisaa': 29).
"Tidaklah Allah menyebabkan timbulnya kesulitan bagimu dalam agama." (Al-Hajj: 78).
Dan seandainya orang sakit itu berpuasa dan rela menanggung penderitan, puasanya sah. Hanya saja, tindakannya itu makruh hukumnya, karena ia tak ingin menerima keringanan yang disukai Allah SWT dan siapa tahu mungkin ia dapat bahaya karenanya.

Rukun Puasa
Rukun puasa ada dua, dan keduanya merupakan unsur terpenting dari hakikat puasa itu. Kedua rukun tersebut adalah pertama, niat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, "Dan tiadalah mereka diperintah kecuali untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT dan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata." (Al-Bayyinah: 5).
Dan, sabda Nabi saw, "Setiap perbuatan itu hanyalah dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh apa yang diniatkannya."
Niat tersebut hendaknya dilakukan sebelum terbitnya fajar (masuknya waktu subuh) pada tiap malam bulan Ramadhan, berdasarkan hadis Hafshah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa tidak membulatkan niatnya untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya." (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan serta dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Niat itu sah pada salah satu saat di malam hari, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena ia merupakan pekerjaan hati dan tidak ada sangkut-pautnya dengan lisan. Hakikat niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi menaati perintah Allah SWT dalam mengharapkan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, siapa saja yang makan sahur dengan maksud akan berpuasa dan dengan menahan diri ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, berarti ia telah berniat. Begitupun orang yang bertekad akan menghindari segala hal yang dapat membatalkan puasa di siang hari dengan ikhlas karena Allah SWT, juga berarti telah niat, walaupun ia tidak makan sahur.

Kemudian, menurut kebanyakan fuqaha', niat puasa tathawwu' (puasa sunnah) itu cukup bila waktu siang, yakni jika seseorang belum lagi makan-minum. Aisyah berkata, "Pada suatu hari Rasulullah saw datang ke rumah, lalu Rasulullah bertanya, 'Apakah ada makanan padamu', Aisyah menjawab, 'Tidak ada', kemudian Rasul bersabda, 'Kalau begitu, saya akan berpuasa'." (HR Muslim dan Abu Daud).

Sementara, golongan Hanafiah mensyaratkan bahwa niat itu hendaklah terjadi sebelum zawal atau tergelincirnya matahari. Pendapat seperti ini juga merupakan pendapat yang populer di antara kedua pendapat Imam Syafi'i. Akan tetapi, Ibnu Mas'ud dan Ahmad, menurut lahir ucapan mereka, niat itu tercapai, baik sebelum atau sesudah zawal, keduanya tidak ada bedanya.

Kedua, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, "Maka sekarang, boleh kamu mencampuri mereka, dan hendaklah kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam." (Al-Baqarah: 187).

Yang dimaksud dengan garis putih dan garis hitam adalah terangnya siang dan gelapnya malam. Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa 'Adi bin Hatim bercerita tatkala turun ayat yang artinya, "... hingga nyata benang putih dari benang hitam berupa fajar...", saya ambil seutas tali hitam dengan seutas tali putih, lalu saya amat-amati di waktu malam, dan ternyata tidak dapat saya bedakan. Kemudian, pagi-pagi saya mendatangi Rasulullah saw dan saya menceritakan apa yang terjadi pada saya kepadanya, lalu Rasul bersabda, "Maksudnya adalah gelapnya malam dan terangnya siang."

Sumber: Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Puasa Ramadhan

Mesjidil Harom
Puasa itu ada dua macam, puasa fardhu dan puasa tathawwu' atau puasa sunnah. Puasa fardhu ada tiga macam, yaitu puasa Ramadhan, puasa Kaffarah dan puasa Nadzar.
Puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban yang di bebankan oleh Allah SWT kepada kita. Ia merupakan rukun Islam yang keempat. Kewajiban tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa Ramadhan sebagaimana diwajibkannya puasa itu kepada umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, agar kalian bertaqwa." (Al-Baqarah: 183).

Arti Puasa
Puasa secara bahasa (Etimologi) berarti al-imsaak (menahan). Maksudnya menahan dari apa saja. Menahan dari bicara berarti puasa bicara, menahan dari tidur berarti puasa tidur, menahan dari makan dan minum berarti puasa makan dan minum, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT di bawah ini:
"Inni Nadzartu lirrahmaani Shauma" (sesungguhnya aku bernadzar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa). (Maryam: 26). Puasa di sini maksudnya menahan diri dari berbicara.
Sedang menurut istilah ulama fiqh (terminologi), puasa berarti menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat pada malam harinya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari..


Keutamaan Puasa 

1. Puasa itu untuk Allah (sebagai penghargaan dari-Nya), bukan untuk manusia. Artinya Allah-lah yang langsung membalasnya.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadis Qudsi-Nya), "Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya ganjaran Puasa itu merupakan benteng, maka ketika datang saat berpuasa, janganlah seorang berkata keji atau berteriak-teriak atau mencai-maki. Seandainya dia dicaci oleh seseorang atau diajak berkelahi, hendaknya dia menjawab, 'saya ini berpuasa' dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada 'tangan'-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum daripada bau minyak kesturi. Dan orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan yang menyenangkan hati, yaitu di saat berbuka, ia akan bergembira dengan berbuka itu dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan bergembira dengan puasanya." (HR Muslim, Nasa'i dan Ahmad).
Dalam riwayat yang lain disebutkan, "Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan mencaki-maki. Seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencaci-makinya, hendaklah ia berkata, 'saya ini berpuasa' dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kesturi. Ia meninggalkan makan dan minum dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberinya pahala. Sedang setiap kebajikan itu akan mendapat pahala sepuluh kali lipat." (HR Bukhari dan Abu Daud)

2. Apabila puasa itu dilaksanakan dengan baik dan benar, ia akan bisa memberikan syafa'at kepada orang yang melakukannya.
"Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, 'Ya Tuhan, Engkau larang ia makan dan memuaskan syahwatnya di waktu siang dan sekarang ia meminta syafaat kepadaku karena itu'. Lalu Alquran pun berkata, 'Engkau larang ia tidur di waktu malam, sekarang ia meminta syafaat kepadaku mengenai itu.' Akhirnya, syafaat kedua mereka pun di terima oleh Allah SWT." (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

3. Puasa akan dapat memasukkan orang yang melakukannya ke sorga dan menjauhkannya dari neraka.
Dari Abu Umamah berkata, saya datang kepada Rasulullah saw lalu saya berkata kepadanya, "Perintahlah aku dengan semacam amal yang akan dapat memasukkanku ke sorga", maka Nabi saw bersabda: "Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingannya". Lalu aku datangi Nabi untuk kali keduanya, maka Nabi saw bersabda: "Hendaklah kamu berpuasa." (HR Ahmad, Nasa'i dan Hakim seraya menshahihkannya).
Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, Nabi saw bersabda, "Tidaklah seorang hamba itu berpuasa satu hari karena Allah kecuali Allah mesti menjauhkan dirinya dari neraka sebab puasa itu selama tujuh puluh tahun." (HR al-Jama'ah [sekelompok ulama hadis] kecuali Abu Daud).
Dari Sahl bin Sa'd, Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya sorga itu mempunyai sebuah pintu yang disebut 'ar-Rayyan' (artinya basah yang melimpah). Pada hari Kiamat akan dipanggil-panggil: "Hai, mana orang-orang yang berpuasa?" Lalu bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutupkanlah." (HR Bukhari dan Muslim).


Keutamaan Bulan Ramadhan

1. Pintu-pintu sorga (jalan-jalan menuju kebaikan) dibuka, pintu-pintu neraka (jalan-jalan menuju amal jelek) ditutup dan syetan-syetan (provokator amal kejahatan) dibelenggu Allah SWT.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda -yakni ketika datang bulan Ramadhan-, "Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kamu berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang nilainya lebih berharga daripada seribu bulan. Maka, barangsiapa tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkan kebaikan itu selama-lamanya." (HR Ahmad, Nasa'i dan Baihaqi).

2. Orang yang melakukan kebaikan di bulan itu diperintah berbahagia dan orang yang melakukan kejahatan di bulan itu diperintah berhenti.
"...dan seorang malaikat akan berseru, 'Wahai pencari kebaikan, bergembiralah. Wahai pecinta kejahatan, berhentilah." (HR Ahmad dan Nasa'i dengan sanad yang baik).

3. Puasa Ramadhan yang kita lakukan ini menjadi pelebur atas dosa -dosa yang telah kita lakukan dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, "Salat yang lima waktu, Salat Jum'at yang satu ke salat Jum'at yang lain itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat di antara masing-masing selama dosa besar itu dijauhi." (HR Muslim).

4. Apabila puasa Ramadhan itu dilakukan dengan ikhlas, maka diampunilah semua dosa-dosanya yang telah lampau.
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan ridha Allah SWT, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu." (HR Ah Ahmad, dan Ashabus Sunan).


Referensi:
1. Fiqhus Sunnah, Sayyid sabiq
2. Tamamul Minnah, Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Selasa, 26 April 2011

~ Nabi Muhammad SAW ~

Nabi Muhammad saw berasal dari kabilah Quraisy, tepatnya keturunan Hasyim. Ayah beliau adalah Abdullah bin Abdul Muthalib, cucu Hasyim. Ibunda beliau adalah Aminah binti Wahb yang berasal dari keturunan Bani Zuhrah, salah satu kabilah Quraisy.



Setelah menikah, Abdullah melakukan pepergian ke Syam. Ketika pulang dari pepergian itu, ia wafat di Madinah dan dikuburkan di kota itu juga.



Setelah beberapa bulan dari wafatnya sang ayah berlalu, Nabi pamungkas para nabi lahir di bulan Rabi’ul Awal, tahun 571 Masehi di Makkah, dan dengan kelahirannya itu, dunia menjadi terang-benderang. Sesuai dengan kebiasaan para bangsawan Makkah, ibundanya menyerahkan Muhammad kecil kepada Halimah Sa’diyah dari kabilah Bani Sa’d untuk disusui. Beliau tinggal di rumah Halimah selama empat tahun. Setelah itu, sang ibu mengambilnya kembali.





Dengan tujuan untuk berkunjung ke kerabat ayahnya di Madinah, sang ibunda membawanya pergi ke Madinah. Dalam perjalanan pulang ke Makkah, ibundanya wafat dan dikebumikan di Abwa`, sebuah daerah yang terletak antara Makkah dan Madinah. Setelah ibunda beliau wafat, secara bergantian, kakek dan paman beliau, Abdul Muthalib dan Abu Thalib memelihara beliau. Pada usia dua puluh lima tahun, beliau menikah dengan Khadijah yang waktu itu sudah berusia empat puluh tahun. Beliau menjalani hidup bersamanya selama dua puluh lima tahun hingga ia wafat pada usia enam puluh lima tahun.



Pada usia empat puluh tahun, beliau diutus menjadi nabi oleh Allah. Ia mewahyukan kepada beliau al-Quran yang seluruh manusia dan jin tidak mampu untuk menandinginya. Ia menamakan beliau sebagai pamungkas para nabi dan memujinya karena kemuliaan akhlaknya.



Beliau hidup di dunia ini selama enam puluh tiga tahun. Menurut pendapat masyhur, beliau wafat pada hari Senin bulan Shafar 11 Hijriah di Madinah.

Bukti Kenabian Rasulullah saw



Secara global, kenabian seorang nabi dapat diketahui melalui tiga jalan:



1. Pengakuan sebagai nabi.

2. Kelayakan menjadi nabi.

3. Mukjizat.



Pengakuan Sebagai Nabi



Telah diketahui oleh setiap orang bahwa Rasulullah saw telah mengaku sebagai nabi di Makkah pada tahun 611 M., masa di mana syirik, penyembahan berhala dan api telah menguasai seluruh dunia. Hingga akhir usia, beliau selalu mengajak umat manusia untuk memeluk agama Islam, dan sangat banyak sekali di antara mereka yang mengikuti ajakan beliau itu.

Kelayakan Menjadi Nabi



Maksud asumsi di atas adalah seorang yang mengaku menjadi nabi harus memiliki akhlak dan seluruh etika yang terpuji, dari sisi kesempurnaan jiwa harus orang yang paling utama, tinggi dan sempurna, dan terbebaskan dari segala karakterisitik yang tidak terpuji. Semua itu telah dimiliki oleh Rasulullah saw. Musuh dan teman memuji beliau karena akhlaknya, memberitakan sifat-sifat sempurna dan kelakuan terpujinya dan membebaskannya dari setiap karakterisitik yang buruk.



Kesimpulannya, akhlak beliau yang mulia, tata krama beliau yang terpuji, perubahan dan revolusi yang beliau cetuskan di seanterao dunia, khususnya di Hijaz dan jazirah Arab, dan sabda-sabda beliau yang mulia berkenaan dengan tauhid, sifat-sifat Allah, hukum halal dan haram, serta nasihat-nasihat beliau telah membuktikan kelayakan beliau untuk menduduki kursi kenabian, dan setiap orang yang insaf tidak akan meragukan semua itu.

Mukjizat



Mukjizat dapat disimpulkan dalam lima hal:



1. Mukjizat akhlak.

2. Mukjizat ilmiah.

3. Mukjizat amaliah.

4. Mukjizat maknawiyah.

5. Mukjizat keturunan.



Mukjizat Akhlak



Sejak masa muda, Nabi Muhammad saw telah dikenal dengan kejujuran, amanat, kesabaran, ketegaran, dan kedermawanan. Dalam kesabaran dan kerendahan diri beliau tidak memiliki sekutu dan dalam kemanisan etika beliau tak tertandingi. “Sesungguhnya engkau berada di puncak akhlak yang agung.” Dalam memaafkan, beliau tak ada taranya. Ketika mendapatkan gangguan dan cemoohan masyarakatnya, beliau hanya berkataاَللّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”Beliau selalu mengharapkan kebaikan seluruh umat manusia, penyayang dan belas-kasih terhadap mereka. “Ia belas-kasih dan pengasih terhadap Mukminin.”



Beliau tidak pernah menyembunyikan keceriaan wajah terhadap para sahabat dan selalu mencari berita tentang kondisi mereka. Beliau selalu memberikan tempat khusus kepada orang-orang baik di sisi beliau. Orang yang paling utama di sisi beliau adalah orang yang dikenal dengan kebajikanya terhadap Muslimin dan orang yang termulia adalah orang yang lebih bertindak toleran dan tolong-menolong terhadap umat Islam. Beliau tida pernah duduk dan bangun (dari duduk) kecuali dengan menyebut nama Allah dan mayoritasnya, beliau duduk menghadap ke arah Kiblat. Beliau tidak pernah menentukan tempat duduk khusus bagi dirinya. Beliau memperlakukan masyarakat sedemikian rupa sehingga mereka merasa dirinya adalah orang termulia di sisi beliau. Beliau tidak banyak berbiacara dan tidak pernah memotong pembicaraan seseorang kecuali ia berbicara kebatilan. Beliau tidak pernah mencela dan mencerca seseorang. Beliau tidak pernah mencari-cari kesalahan orang lain. Budi pelerti beliau yang menyeluruh telah meliputi seluruh umat manusia. Beliau selalu sabar menghadapi perangai buruk bangsa Arab dan orang-orang yang asing bagi beliau. Beliau selalu duduk di atas tanah dan duduk bersama orang-orang miskin serta makan bersama mereka. Dalam makan dan berpakaian, beliau tidak pernah melebihi rakyat biasa. Setiap berjumpa dengan seseorang, beliau selalu memulai mengucapkan salam dan berjabat tangan dengannya. Beliau tidak pernah mengizinkan siapa pun berdiri (untuk menghormati)nya. Beliau selalu menghormati orang-orang berilmu dan berakhlak mulia. Dibandingkan dengan yang lain, beliau lebih bijaksana, sabar, adil, berani dan pengasih. Beliau selalu menghormati orang-orang tua, menyayangi anak-anak kecil dan membantu orang-orang yang terlantar. Sebisa mungkin, beliau tidak pernah makan sendirian. Ketika beliau meninggal dunia, beliau tidak meninggalkan sekeping Dinar dan Dirham pun.



Keberanian beliau sangat terkenal sehingga Imam Ali as pernah berkata: “Ketika perang mulai memanas, kami berlindung kepada beliau.”



Rasa memaafkan beliau sangat besar. Ketika berhasil membebaskan Makkah, beliau memegang pintu Ka’bah seraya bersabda (kepada musyrikin Makkah): “Apa yang kalian katakan dan sangka sekarang?” Mereka menjawab: “Kami mengatakan dan menyangka kebaikan (terhadapmu). Engkau adalah seorang pemurah dan putra seorang pemurah. Engkau telah berhasil berkuasa terhadap kami. Engkau pasti mampu melakukan apa yang kau inginkan.” Mendengar pengakuan mereka ini, hati beliau tersentuh dan menangis. Ketika penduduk Makkah melihat kejadian itu, mereka pun turut menangis. Setelah itu beliau bersabda: “Aku mengatakan seperti apa yang pernah dikatakan oleh saudaraku Yusuf bahwa ‘Tiada cercaan bagi kalian pada hari ini. Allah akan mengampuni kalian, dan Ia adalah Lebih Pengasih dari para pengasih’.” (QS. Yusuf: 92) Beliau memaafkan seluruh kriminalitas dan kejahatan yang pernah mereka lakukan seraya mengucapkan sabda beliau yang spektakuler: “Pergilah! Kalian bebas.”

Mukjizat Ilmiah



Dengan merujuk kepada buku-buku yang memuat sabda, pidato dan nasihat-nasihat beliau secara panjang lebar, mukjizat ilmiah beliau ini dapat dipahami dengan jelas.

Mukjizat Amaliah



Dapat diakui bahwa seluruh perilaku beliau dari sejak lahir hingga wafat adalah sebuah mukjizat. Dengan sedikit merenungkan kondisi dan karakteristik masyarakat Hijaz, khususnya masyarakat kala itu, kemukjizatan seluruh perilaku beliau akan jelas bagi kita. Beliau bak sebuah bunga yang tumbuh di ladang duri. Beliau tidak hanya tidak terpengaruh oleh karakteristik duri-duri itu, bahkan beliau berhasil merubahnya. Beliau tidak hanya terpengaruh oleh kondisi kehidupan masyarakat kala itu, bahkan beliau berhasil mempengaruhi gaya hidup mereka.



Dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun, beliau telah berhasil melakukan empat pekerjaan besar dan fundamental meskipun banyak aral melintang dan problema yang melilit. Masing-masing pekerjaan itu dalam kondisi normal semestinya memerlukan usaha bertahun-tahun untuk dapat tegak berdiri sepanjang masa. Keempat pekerjaan besar itu adalah sebagai berikut:



Pertama, berbeda dengan agama-agama yang sedang berlaku pada masa beliau, beliau mendirikan sebuah agama baru yang bersifat Ilahi. Beliau telah berhasil menciptakan banyak orang beriman kepada agama tersebut sehingga sampai sekarang pun pengaruh spiritual beliau masih kuat tertanam di dalam lubuk hati ratusan juta pengikutnya. Menjadikan seseorang taat adalah sebuah pekerjaan yang mudah. Akan tetapi, menundukkan hati masyarakat, itu pun sebuah masyarakat fanatis dan bodoh tanpa syarat dan menjadikan mereka taat dari lubuk hati bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah.



Kedua, dari kabilah-kabilah berpecah-belah yang selalu saling bermusuhan dan memiliki hobi berperang, beliau berhasil sebuah umat yang satu dan menjalin persaudaraan, persamaan, kebebasan dan kesatun kalimat dalam arti yang sebenarnya di antara mereka. Setelah beberapa tahun berlalu, beliau berhasil membentuk sebuah umat yang bernama umat Muhammad saw. Hingga sekarang umat ini masih eksis dan terus bertambah.



Ketiga, di tengah-tengah kabilah yang berpecah-belah, masing-masing memiliki seorang pemimpin, biasa melakukan pekerjaan secara tersendiri dan tidak pernah memiliki sebuah pemerintahan yang terpusat itu, beliau berhasil membentuk sebuah pemerintahan yang berlandaskan kepada kebebasan dan kemerdekaan yang sempurna. Dari sisi kekuatan dan kemampuan, pemerintahan ini pernah menjadi satu-satunya pemerintahan mutlak di dunia setelah satu abad berlalu.



Beliau pernah menulis enam surat dalam satu hari kepada para raja penguasa masa itu dan mengajak mereka untuk memeluk Islam, raja-raja yang menganggap diri mereka berada di puncak kekuatan dan meremehkan kaum Arab.



Ketika surat beliau sampai ke tangan raja Iran dan melihat nama beliau disebutkan di atas namanya, ia marah seraya memerintahkan para suruhannya untuk pergi ke Madinah dan membawa Muhammad ke hadapannya.



Ya! Para raja itu berpikir bahwa bangsa Arab adalah sebuah bangsa yang tidak akan menunjukkan reaksi apa pun di hadapan pasukan kecil seperti bala tentara Habasyah. Bahkan, mereka akan lari tunggang-langgang meninggalkan Makkah dan kehidupan mereka, serta berlindung ke gunung-gunung. Mereka tidak dapat memahami bahwa bangsa Arab telah memiliki seorang pemimpin Ilahi dan mereka bukanlah bangsa Arab yang dulu lagi.



Keempat, dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun, beliau telah menetapkan dan menunjukkan sederetan undang-undang yang mencakup seluruh kebutuhan umat manusia. Undang-undang ini akan tetap kekal hingga hari Kiamat, dan mempraktikkannya dapat mendatangkan kebahagiaan umat manusia. Undang-undang ini tidak akan pernah layu. “Kehalalan Muhammad adalah halal selamanya hingga hari Kiamat dan keharamannya adalah haram selamanya hingga hari Kiamat.”[1] Undang-undang ini akan selamanya hidup kekal. Di hauzah-hauzah ilmiah selalu dibahas dan didiskusikan oleh para fuqaha besar dalam sebuah obyek pembahasan fiqih, Furu’uddin dan kewajiban amaliah.

Mukjizat Ma’nawiyah



Mukjizat abadi beliau adalah al-Quran yang telah turun kepada beliau dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun, dan dari sejak saat itu hingga sekarang selalu mendapatkan perhatian dan penelaahan dari berbagai segi oleh seluruh masyarakat dunia. Kitab ini berhasil membangkitkan rasa heran para ilmuan dan sepanjang masa masih memiliki kekokohan dan kedudukannya yang mulia. Kitab ini terselamatkan dari segala bentuk tahrif, pengurangan dan penambahan. Ratusan tafsir dan buku tentang hakikat arti dan kosa katanya telah ditulis. Allah telah menjamin keterjagaannya dalam firman-Nya: إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَ إِنَّا لَهُ لَحَافِظُوْنَ



“Kami-lah yang telah menurunkan al-Quran ini dan Kami pulalah yang akan menjaganya.”[2]

Mukjizat Keturunan



Salah satu mukjizat beliau yang lain adalah keturunan suci beliau yang terjaga dari dosa. Hanya kedudukan tinggi kenabianlah yang mampu menghaturkan putri-putri dan para imam ma’shum seperti ini kepada masyarakat. Seseorang yang sadar dengan memperhatikan ilmu, kehidupan, ucapan dan perilaku Ahlubait as akan mengakui bahwa setiap dari mereka, sebagaimana al-Quran, adalah dalil tersendiri atas kenabian Rasulullah saw. Seandainya tidak ada dalil lain untuk membuktikan kenabian Rasulullah saw kecuali keberadaan keturunan semacam itu, hal itu sudah mencukupi dan hujjah sudah sempurna. Pembahasan panjang-lebar tentang masalah ini tidak relevan untuk kesempatan pendek ini.



KARAKTER DAN KEUTAMAAN RASULLULLAH SAW



Salah satu karekter rasulullah saw yang paling menonjol adalah kemenangan tidak menjaga kan dia bangga hal ini bisa kita lihat diperang badar dan pembebasan kita makkah(fathu makkah) dan kekalahan tidak membuat dia putus asa dapat kita lihat pristiwa perang uhud bahkan dengan cekatan is mempersiapkan pasukan baru untuk menghadapi hamru"ul asad dan pengingkari perjanjian yang dilakukan kaum yahudi bani quraizah ,dan kewaspadaan beliau,selalu mengedek kekuatan musuh dengan teliti dan mempersiapkan segalanya.




Dia memperlakukan kaum dan pengikutnya dengan tujuan mempererat silaturrahmi dan selalu menamamkan rasa percaya diri dalam mereka is selalu mengasihi anak anak kecil dan mengayomi mereka.berbuat baik dengan fakir miskin dan terhadap hewan dia selalu menanamkan rasa kasih sayang dan melarang untuk menyakiti binatang

Salah satu contoh rasa prikemanusian rasul saw adalah ketika mengutus pasukan untuk berperang dengan musuh dia selalu berpesan tidak boleh menyerang kaum sipil,dia lebih memilih damai terhadap musuh dari pada berperang ketika berperang dia berpesan tidak boleh membunuh lanjut usia anak kecil perempuan dan mengniaya musuh yang sudah tidak berdaya

Ketika kaum quraisi minta suaka politik kepadanya ia tidak memberlakukan baikot ekonomi bahkan ia menyepakati import gandum dari yaman

Ia juga menyerukan realisasikan sebuah perdamaian dunia dan melarang peperanga kecuali hal yang darurat





D. USAHA RASUL SAW DALAM MEMBENTUK MASYARAKAT &BERPRIKEMANUSIAN



Kedatangan rasul adalah sebuah rahmat bagi manusia semuanya is tidak pernah membedakan seseorang pun baik itu kulit putih atau kulit hitam dan dari suku bangsa mana,karma semua manusia itu makan dari rizki allah yang diberikan allah

Rasul saw mengajak manusia untuk

1:meningkatkan harkat martabat manusia ia bersabda semua manusia berasil dari adam dan ia berasal dari tanah

2: mengajak damai sebelum perang

3: memaafkan sebelom membalas

4: mempermudah seseorang sebelom membalas perbuatan

dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa peperangan yang dilaksanakan bertujuan untuk merealisasikan tujuan tujuan insani yang agung dan menuju kepada tatanan masyarakat yang berprikemanusian



ia telah membuktikan bahwa dirinya adalah sebuah rahmat bagi manusia dan alam semesta peristiwa itu bisa dilihat dari pembebasan kota makkah dangan segala kemenangan yang telah digapai saat itu ia tetap berbuat baik dengan musuh dan enggan untuk membalas dendam padahal ia dapat melaksanakan ia pernah memaafkan mereka dengan sabda"pergilah kalian karma kalian sekarang sudah bebas pada waktu perang dzatur riqa dia berasil menangkap pemimpin gauts bin al harits yang berusaha beberapa kali membunuh beliau akan tetapi tetap dimaafkan



rasul memperlakukan tawanan perang dengan baik ,ia telah membebaskan seorang tawanan perang dengan tangan dia sendiri disaat ia mendengar keluhan rasa sakit tangannya diikat.



RASUL SEBAGAI PANGLIMA PERANG

Kita bisa lihat keberasilan beliau dalam memenangkan peperangan dan menciptakan perdamaian dan mengujudkan manusia yang berakhlak dan memimpin pasukan dengan gagah berani



TATA KRAMA BERGAUL

Beliau tidak pernah sombong dalam pergaulan selalu tersenyum berbuat baik sesame manusia selalu menyenguk orang sakit tidak pernah memotong pembicaraan lawan tidak pernah mengangap dirinya mulia dari teman yang diajak bicara

Masih banyak lagi sipat2 rasul yang kita bisa dapat teladani.. mudah2an kita bisa dapat meniru akhlak rasulullah amin....



mudah mudahan kita berusaha untuk bisa menjadikan nabi muhammad sebagai huswatun hasanah dalam kehidupan kita amin



Referensi :

www.zainurie.wordpress.com

www.masjid.phpbb24.com

Senin, 25 April 2011

Keutamaan Sholat Tahajud


Oleh : H. Sunaryo A.Y.

Shalat malam, bila shalat tersebut dikerjakan sesudah tidur, dinamakan shalat Tahajud, artinya terbangun malam. Jadi, kalau mau mengerjakan sholat Tahajud, harus tidur dulu. Shalat malam ( Tahajud ) adalah kebiasaan orang-orang shaleh yang hatinya selalu berdampingan denganAllah SWT.
Berfirman Allah SWT di dalam Al-Qur’an :
“ Pada malam hari, hendaklah engkau shalat Tahajud sebagai tambahan bagi engkau. Mudah-mudahan Tuhan mengangkat engkau ketempat yang terpuji.”
(QS : Al-Isro’ : 79)
Shalat Tahajud adalah shalat yang diwajibkan kepada Nabi SAW sebelum turun perintah shalat wajib lima waktu. Sekarang shalat Tahajud merupakan shalat yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan .
Sahabat Abdullah bin
Salam mengatakan, bahwa Nabi SAW telah bersabda :
“ Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam dan berikanlah makanan serta sholat malamlah diwaktu manusia sedang tidur, supaya kamu masuk Sorga dengan selamat.”(HR Tirmidzi)
Bersabda Nabi Muhammad SAW :
“Seutama-utama shalat sesudah shalat fardhu ialah shalat sunnat di waktu malam” ( HR. Muslim )
Waktu Untuk Melaksanakan Sholat Tahajud :
Kapan afdhalnya shalat Tahajud dilaksanakan ? Sebetulnya waktu untuk melaksanakan shalat Tahajud ( Shalatul Lail ) ditetapkan sejak waktu Isya’ hingga waktu subuh ( sepanjang malam ). Meskipun demikian, ada waktu-waktu yang utama, yaitu :
1. Sangat utama : 1/3 malam pertama ( Ba’da Isya – 22.00 )
2. Lebih utama : 1/3 malam kedua ( pukul 22.00 – 01.00 )
3. Paling utama : 1/3 malam terakhir ( pukul 01.00 – Subuh )
Menurut keterangan yang sahih, saat ijabah (dikabulkannya do’a) itu adalah 1/3 malam yang terakhir. Abu Muslim bertanya kepada sahabat Abu Dzar : “ Diwaktu manakah yang lebih utama kita mengerjakan sholat malam?”

Sahabat Abu Dzar menjawab : “Aku telah bertanya kepada Rosulullah SAW sebagaimana engkau tanyakan kepadaku ini.” Rosulullah SAW bersabda :
“Perut malam yang masih tinggal adalah 1/3 yang akhir. Sayangnya sedikit sekali orang yang melaksanakannya.” (HR Ahmad)
Bersabda Rosulullah SAW :
“ Sesungguhnya pada waktu malam ada satu saat ( waktu. ). Seandainya seorang Muslim meminta suatu kebaikan didunia maupun diakhirat kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan memberinya. Dan itu berlaku setiap malam.” ( HR Muslim )
Nabi SAW bersabda lagi :
“Pada tiap malam Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun ( ke langit dunia ) ketika tinggal sepertiga malam yang akhir. Ia berfirman : “ Barang siapa yang menyeru-Ku, akan Aku perkenankan seruannya. Barang siapa yang meminta kepada-Ku, Aku perkenankan permintaanya. Dan barang siapa meminta ampunan kepada-Ku, Aku ampuni dia.” ( HR Bukhari dan Muslim )
Jumlah Raka’at Shalat Tahajud :
Shalat malam (Tahajud) tidak dibatasi jumlahnya, tetapi paling sedikit 2 ( dua ) raka’at. Yang paling utama kita kekalkan adalah 11 ( sebelas ) raka’at atau 13 ( tiga belas ) raka’at, dengan 2 ( dua ) raka’at shalat Iftitah. Cara (Kaifiat) mengerjakannya yang baik adalah setiap 2 ( dua ) rakaat diakhiri satu salam. Sebagaimana diterangkan oleh Rosulullah SAW :“ Shalat malam itu, dua-dua.” ( HR Ahmad, Bukhari dan Muslim )
Adapun Kaifiat yang diterangkan oleh Sahabat Said Ibnu Yazid, bahwasannya Nabi Muhammad SAW shalat malam 13 raka’at, sebagai berikut :
1) 2 raka’at shalat Iftitah.
2) 8 raka’at shalat Tahajud.
3) 3 raka’at shalat witir.
Adapun surat yang dibaca dalam shalat Tahajud pada raka’at pertama setelah surat Al-Fatihah ialah Surat Al-Baqarah ayat 284-286. Sedangkan pada raka’at kedua setelah membaca surat Al-Fatihah ialah surat Ali Imron 18-19 dan 26-27. Kalau surat-surat tersebut belum hafal, maka boleh membaca surat yang lain yang sudah dihafal.Rasulullah SAW bersabda :
“Allah menyayangi seorang laki-laki yang bangun untuk shalat malam, lalu membangunkan istrinya. Jika tidak mau bangun, maka percikkan kepada wajahnya dengan air. Demikian pula Allah menyayangi perempuan yang bangun untuk shalat malam, juga membangunkan suaminya. Jika menolak, mukanya
disiram air.” (HR Abu Daud)
Bersabda Nabi SAW :
“Jika suami membangunkan istrinya untuk shalat malam hingga
keduanya shalat dua raka’at, maka tercatat keduanya dalam golongan (perempuan/laki-laki) yang selalu berdzikir.”(HR Abu Daud)
Keutamaan Shalat Tahajud :
Tentang keutamaan shalat Tahajud tersebut, Rasulullah SAW suatu hari bersabda : “Barang siapa mengerjakan shalat Tahajud dengan
sebaik-baiknya, dan dengan tata tertib yang rapi, maka Allah SWT akan memberikan 9 macam kemuliaan : 5 macam di dunia dan 4 macam di akhirat.”
Adapun lima keutamaan didunia itu, ialah :
1. Akan dipelihara oleh Allah SWT dari segala macam bencana.
2. Tanda ketaatannya akan tampak kelihatan dimukanya.
3. Akan dicintai para hamba Allah yang shaleh dan dicintai oleh
semua manusia.
4. Lidahnya akan mampu mengucapkan kata-kata yang mengandung hikmah.
5. Akan dijadikan orang bijaksana, yakni diberi pemahaman dalam agama.
Sedangkan yang empat keutamaan diakhirat, yaitu :
1. Wajahnya berseri ketika bangkit dari kubur di Hari Pembalasan nanti.
2. Akan mendapat keringanan ketika di hisab.
3. Ketika menyebrangi jembatan Shirotol Mustaqim, bisa melakukannya dengan sangat cepat, seperti halilintar yang menyambar.
4. Catatan amalnya diberikan ditangan kanan.
(Bahan (materi) di ambil dari buku “RAHASIA SHALAT SUNNAT” (Bimbingan
Lengkap dan Praktis) Oleh: Abdul Manan bin H. Muhammad S