Tampilkan postingan dengan label Karya Sendiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sendiri. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Oktober 2012

Tradisi Dan Budaya Masyarakat Betawi (2) --- Jadi Pengejek ---


Cengkareng, 25 September 2012

 Abis malemnya muludan, paginya berangkat lagi ke TKP. Nganterin mpok saya buat jadi ”pengejek”. ”Pengejek” adalah pelayan nyang ikut membantu kelancaran dalam suatu acara resepsi perkawinan dalam masyarakat Betawi. Biasanya pengejek lelaki kerjaannya mulain dari ngerapiin kursi-kursi nyang berantakan lantaran abis dipake ama tamu-tamu. Ngebuang sisa minuman atau makanan nyang ada di atas meja, supaya meja bersih dan kaga ada sampah, soalnya mao ditempatin lagi ama tamu nyang laennya. Mungutin piring-piring nyang abis dipake makan ama tamu-tamu terus dibawa dah ke bagian cuci piring (biasanya ini kerjaan bocah-bocah, kalo gw nyang kerjain bisa jatoh derajat gw.. hahaha). Nge-refill makanan atau minuman nyang tinggal dikit. Biar di meja keliatan banyak makanan atau minumannya. Kalo pengejek perempuan, biasanya kerjaannya ngelayanin tamu nyang pada mao makan. Kalo tamunya banyak, lumayan pegel juga  jadi pengejek. Tapi kalo tamunya dikit, kita bisa ngasoh. Tapi kita sebagai saudara dari Shohibul Hajat tetep ngarepin kalo tamu nyang dateng banyak mulain dari pagi ampe malem. Biar badan pegel-pegel, nyang penting ati senang. Seneng ngeliat penganten nyang sumringah ajah di pelaminan. Abisnya kalo bukan kita saudaranya nyang ngebantuin, siapa lagi ?

Rabu, 24 Oktober 2012

Haji, Panggilan Allah Kepada Orang Yang Beriman



LabbaikAllahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik
Innal Hamda Wa Ni’mata Laka
Wal Mulka Laa Syarika Laka

Musim Haji datang lagi ”menyapa” umat Islam. Ibadah Haji merupakan rukun Islam ke lima. Haji adalah panggilan ALLAH SWT kepada umat manusia yang beriman. Salah satu dari 3 panggilan ALLAH. Panggilan ALLAH yang pertama adalah panggilan Sholat. Sebagaimana banyak terdapat dalam Al Quran terkait perintah Sholat. Salah satunya dalam Surah Ibrahim ayat 31 berikut :




Artinya:
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan


Tradisi Dan Budaya Masyarakat Betawi (1)-- Acara Malem Mangkat ---


Rawa Buaya, 24 September 2012

Hooaaaahhhmmmm… Bangun tidur shubuh tadi badan berasa pegel-pegel. Tulang-tulang berasa pada copot dari persendian. Sayang aja ini ari Senen, waktunya kerja lagi setelah 2 hari kemaren libur. Emang sih 2 ari kemaren saya libur kerja. Tapi mulain dari malem sabtu (pulang kerja ari jumaat) ampe semalem (malem Senen) nih badan kurang ngaso. Ini bukan lantaran lagi banyak objekan. Tapi semuanya murni lantaran rasa persaudaraan nyang erat sesama masyarakat Betawi, khususnya dalam keluarga besar kami. Sampe sekarang aja badan masih berasa meluang. Rasanya kepengen rebahan lagi, lemesin otot-otot nyang masih pada kaku.

Senin, 17 September 2012

Jakarta Macet, Salah Siapa ?


Jakarta bilangan Ancol, 12 September 2012.

Tadi pagi saya terlibat obrolan serius tapi santai dengan beberapa teman kerja di depan wastafel sebuah toilet kantor. Ketika itu ada seorang teman yang mengeluhkan kondisi Jakarta yang macet, terlebih lagi adanya pembangunan koridor busway baru di daerah Kemayoran. Dia membayangkan seperti apa kemacetan di Jakarta dengan dikuranginya badan jalan untuk busway yang menggunakan jalur khusus. Padahal badan jalan yang ada itu kecil dan sedikit hanya beberapa meter saja lebarnya. Sebelum ada jalur busway saja macet, apalagi dengan adanya jalur busway yang mengurangi lebar badan jalan. Begitulah keluh kesah teman saya yang baru beberapa tahun menetap di Jakarta ini. Saya pun menanggapinya dengan memberikan "solusi" atas kemacetan parah yang diprediksi akan terjadi di wilayah tersebut dengan mengatakan agar lebih memilih menggunakan angkutan umum seperti busway untuk berangkat dan pulang kerja atau aktivitas lainnya ketimbang menggunakan mobil pribadi. Kemacetan di Jakarta bukan disebabkan karena adanya "pemotongan" badan jalan yang diperuntukkan untuk jalur khusus busway. Bahkan jauh sebelum Konsep Busway dicanangkan, kemacetan sudah terjadi di setiap sudut jalan raya ibukota negara Republik Indonesia ini. Busway sendiri bisa dikatakan sebagai "pelengkap" daripada kemacetan yang sudah terjadi di Jakarta sejak lama. Bahkan tujuan sebenarnya dari pembangunan konsep Busway ternyata untuk mengurai dan mengurangi dampak kemacetan yang terjadi di banyak jalan-jalan raya di ibukota ini. Pembangunan koridor Busway saat ini sudah menjelajah dari wilayah barat Jakarta sampai ke Timur. Dari Selatan sampai ke Utara. Bahkan daerah-daerah yang disebut sebagai penyangga Ibukota seperti Tangerang, dibangun Bus Line sebagai pendukung daripada konsep Busway tersebut.

Rabu, 25 Juli 2012

Mudik Lebaran (Part 2) : Sholat Ied 1432 H (2011) di Kampung Orang

di Pantai Kartini


Hari-hari di Jepara kami lalui dengan berpuasa, “menghabiskan” sisa hari di bulan Ramadhan menjelang Lebaran. Walaupun cuaca saat itu cukup panas (lebih panas dari Jakarta lho), bahkan menurut saudara istri saya di Jepara jarang sekali turun hujan. Sehingga menambah daftar godaan selama berpuasa di sana. Tapi Alhamdulillah selama niat kita mantab, sisa hari puasa di Jepara dapat kami lalui dengan sempurna. Bahkan selama perjalanan menuju Jepara yang mana di hari Minggunya kami masih di jalan sambil berpuasa, dapat kami lalui sampai Maghrib tiba. Hari Senin yang merupakan hari pertama kami di Jepara dan juga H-2 Lebaran, kami lalui dengan beristirahat dan bermalas-malasan di rumah Bude (Bibi) istri saya. Sambil ngobrol dan bercerita dengan saudara-saudara dan kerabat di sana. Kami menceritakan segala hal, mulai dari perjalanan kami ke Jepara yang cukup memakan waktu sampai hal-hal lainnya. Sehingga waktu sudah sore, menjelang waktu berbuka puasa. Kami berbuka puasa di rumah saja. Selain dikarenakan waktu Sholat Maghrib yang hanya sebentar saja ---kalau berbuka di luar, khawatir waktunya tidak cukup untuk sholat Maghrib---, malam itu kalau mengikuti kalender seharusnya sudah malam takbiran yang keesokannya adalah hari Raya Iedul Fitri 1432 H, namun belum ada keputusan dari Pemerintah. Maka, kamipun menunggu keputusan Pemerintah dengan bersama-sama menonton acara sidang Ishbat penentuan akhir Ramadhan di televisi. Sehingga menghasilkan keputusan kalau Puasa Ramadhan ditambah 1 hari lagi. Berarti hari Lebaran adalah esok lusa. 
Esok sorenya, sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami menyempatkan diri untuk belanja ukir-ukiran khas kota Jepara. Di sebuah jalan (saya lupa nama jalannya), banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang ukir-ukiran seperti pot bunga, tempat menyimpan gelas air mineral, jam dinding, kaligrafi, serta ukir-ukiran hiasan lainnya sampai bufet dan lemari. Di sana saya hanya membeli sebuah lekar ukir untuk meletakkan Al Quran ketika kita akan membacanya. Istri saya membeli hiasan sepeda ontel kayu dan jam dinding kayu model sauh kapal laut. Semua ukir-ukiran itu murni terbuat dari kayu jati. Sekembalinya dari toko ukiran, kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami diajak sama mas Tasrif (kakak ipar) untuk melihat-lihat koleksi pohon bonsainya. Dia mengajak kami ke sebuah kebun yang disana banyak sekali pohon bonsai yang dirawat oleh beliau dan teman-temannya. Bagus-bagus sekali pohon-pohon koleksinya. Bahkan ada pohon yang timbuh di atas batu atau batang pohon yang sudah kering, namun tumbuh ranting kecil hijau dan daun-daun segarnya. Ketika sudah hampir maghrib, kami segera pulang untuk berbuka puasa di rumah. Sekaligus merayakan malam takbiran. 


Ukiran Khas Jepara
Akhirnya malam takbiran pun tiba. Kami keliling kota Jepara. Katanya, kalau malam takbiran disini ramai, ada pawai, karnaval dari anak-anak sampai orang dewasa. Ternyata benar. Baru saja kami keluar rumah, dikejutkan dengan suara lantunan takbir yang menggema. Walaupun sumber suaranya masih jauh, namun gema takbirnya membahana sampai ke telinga. Dari kejauhan kami melihat nyala api yang berkobar di ujung obor. Ada hiasan kembang kelapa. Anak-anak yang memainkan bedug sambil bertakbir. Sungguh pemandangan yang jarang saya temui di ibukota Jakarta. Meriah sekali suasananya.

ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR..
LAA ILAAHA ILLALLOHU ALLOHU  AKBAR..
ALLOHU AKBAR WALILLAHILHAM..

Takbir Keliling
Dari rumah, kami berjalan berkeliling kota Jepara dan menuju ke alun-alun kota yang berdekatan dengan museum KARTINI. Di sana, menurut informasi yang saya terima, ada acara Festival Bedug antar Sekolah Menengah Atas se-Jepara. Wahh... Jadi penasaran. Karena selama ini saya hanya melihat acara Festival Bedug melalui televisi. Di perjalanan, saya menjumpai suasana yang tidak asing saya jumpai di Jakarta ketika malam takbiran. Yaitu, antrean sepeda motor untuk memasuki tempat acara. Penuh sesak dan macet. Walaupun tidak separah Jakarta, saya kaget juga karena masyarakat Jepara lebih suka pawai keliling kota menggunakan sepeda motor, sama halnya dengan masyarakat Jakarta. Kami tiba di alun-alun dan langusng menuju ke depan panggung untuk lebih menikmati acara. Tak beberapa lama acara dimulai setelah sebelumnya diisi dengan sambutan oleh para petinggi Kota Jepara. Para pesertanya adalah para siswa-siswi SMK-SMA se JEPARA. Meriah sekali acara tersebut. Dan penampilan para pesertanya sungguh luar biasa. Bahkan juga ada acara pesta kembang apinya. Ramai dan meriah sekali alun-alun Kota Jepara ini, seolah-olah semua masyarakat Jepara berkumpul di satu tempat ini. Sekitar jam 10 malam, kami memutuskan untuk pulang, karena besok harus bangun pagi-pagi untuk sholat Ied.

Ketika hari Lebaran tiba, kami sholat Ied di mesjid terdekat. Seumur-umur, belum pernah yang namanya berlebaran dan Sholat Ied di kampung orang. Saya selalu merayakan Hari Lebaran dan sholat Ied di Jakarta. Setiap tahunnya, setelah pulang dari Sholat Ied, saya selalu mencium tangan, mencium pipi kanan dan kiri seraya memeluk erat tubuh kedua orang tua. Sebagai tanda hormat dan takzim saya kepada beliau. Sehingga air mata menetes tatkala mengingat kenakalan-kenakalan yang sering saya lakukan kepada mereka.  Pada saat Sholat Ied, Khotib membacakan khutbah yang cukup membuat saya terharu. Khutbah tersebut berhasil membuat air mata menetes di pipi. Memang bahasa yang digunakan ada bahasa Jawanya yang saya tidak mengerti. Namun juga dicampur dengan bahasa Indonesia, sehingga saya menangkap maksud dari khutbahnya. Intinya sang Khotib menekankan untuk menghormati kedua orang tua. Hari Lebaran ini adalah momen yang pas untuk kita saling bermaaf-maafan, terutama kepada orang tua yang telah berjasa melahirkan dan membesarkan kita. Bahkan orang tua senantiasa berdo’a untuk semua kebaikan kita. Hal inilah yang membuat kepala saya tertunduk dan mengenang kembali kenakalan-kenakalan saya kepada mereka. Saya belum bisa membuat mereka bangga dan bahagia. Sampai saat ini hanya do’a yang bisa saya panjatkan untuk mereka. Air mata menetes dan membasahi pipi. Sungguh sebuah pengalaman pertama berlebaran di kampung orang dan jauh dari orang tua.

Selesai Sholat Ied saya pun kemudian mengambil Handphone dan mencoba menelepon ke Jakarta. Ternyata Nomor yang saya tuju tidak diangkat teleponnya. ”Ahh.. Nanti siang-siangan saja. Mungkin sekarang lagi pada sibuk bersilaturahmi dengan tetangga” pikirku. Nuansa dan suasana Lebaran di Jepara tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Yang muda berkeliling mengunjungi yang tua. Meminta maaf dan saling cipika cipiki bagi kaum wanitanya. Kami yang lelaki cukup berjabat tangan saja. Makanan dan minumannya pun tidak jauh berbeda dengan yang ada di Jakarta saat ini. Terutama Kacang Gorengnya, sama saja. Siangnya saya mencoba menelepon kembali ke Jakarta. Yang menerima ibu saya yang biasa saya panggil dengan sebutan emak. Tanpa sempat berkata-kata, air mata langsung membasahi pipi. Dengan terbata-bata, saya meminta maaf kepada beliau dan semuanya. Di ujung telepon, saya mendengar suara serak-serak basah emak saya yang juga sedang menahan emosinya untuk tidak terlalu larut dalam tangisan. Alhamdulillah. Hati serasa plong setelah mendengar suara emak. Sungguh hebat jaman sekarang, walaupun terpisah oleh jarak yang cukup jauh, kita masih bisa berkomunikasi dengan orang lain. Subhanalloh.

Keesokan harinya yaitu hari Kamis, 01 September 2011 pagi, kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Rencananya kami pulang ke Jakarta hari Rabu. Namun, karena keputusan Pemerintah yang menyatakan bahwa tanggal 1 Syawal 1432 H atau Hari Raya Iedul Fitri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, padahal di kalender menunjukkan tanggal 30 Agustus 2011 untuk Hari Raya Iedul Fitri 1432 H. Sehingga liburan kami jadi bertambah 1 hari. Kami mengecek kondisi mobil, apakah masih stabil atau ada yang bermasalah. Alhamdulillah kondisi mobil masih sehat-sehat saja. Sebelum berangkat pulang, kami sekeluarga besar menyempatkan untuk foto-foto di depan rumah. 3 generasi berfoto bersama. Mulai dari bude yang paling ”senior” di antara kami, kami sebagai anak-anaknya, hingga keponakan-keponakan kami. Akhirnya, jam 9 pagi kit meluncur berangkat menuju Jakarta, setelah berpamitan dengan semuanya. Kami sengaja mengambil waktu pulang hari itu, karena kami memprediksi kalau saat itu suasana lalu lintas untuk arus balik masih agak sepi. Karena baru H+1. Alhasil, sepanjang perjalanan tidak ada kemacetan yang berarti. Perjalanan lancar-lancar saja. Kami lewat Jalur Pantura, melalui Kudus, Semarang, Pemalang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Cirebon, Indramayu.

Saya duduk di bangku depan samping sopir. Penumpang yang lain, termasuk istri saya terlelap tidur karena kelelahan di sepanjang perjalanan. Saya tidak bisa tidur, karena inilah impian saya. Menikmati perjalanan jauh. Sepanjang perjalanan mata saya memandang kesana kemari menikmati pemandangan di setiap kota yang kami lewati. Saya juga bertugas sebagai semacam Navigator bagi sang supir. Supir mengendarai kendaraan dengan penuh konsentrasi, saya sibuk menajamkan penglihatan saya membaca plang arah tujuan yang terpasang di setiap perempatan atau lampu merah. Alhamdulillah, sekitar jam 2 dini hari Jum’at 02 September 2011, kami tiba di rumah dengan selamat dan utuh tidak kekurangan suatu apapun. Kedatangan kami rupanya ditunggu-tunggu sama orang tua saya. Mereka tidak bisa tidur menunggu kedatangan kami. Alhamdulillah kami tiba di Jakarta dengan selamat. Sungguh pengalaman Mudik yang menyenangkan dan juga melelahkan. Saya baru tahu rasanya mudik yang sebenarnya. 

Terdampar di Pinggir Pantai

Sementara di Lebaran Tahun 2012/ 1433 H ini, sepertinya kami tidak akan kemana-mana. Hal ini dikarenakan kami mempunyai urusan yang lebih penting. Yaitu menyambut kehadiran calon anggota baru di keluarga kami. Ya.. Insya ALLAH istri saya akan melahirkan di bulan Agustus yang bertepatan dengan bulan Puasa tahun ini. Tepatnya Insya ALLAH 1 minggu sebelum Lebaran menurut perhitungan dokter yang memeriksa kandungan istri saya. Mohon do’anya ya, semoga istri saya dan bayi yang dikandungnya diberi kesehatan, dilancarkan dan dipermudah persalinannya nanti. Dan keduanya diberikan keselamatan dan kesehatan serta umur yang panjang. Semoga kita semua juga senantiasa diberi kesehatan dan umur yang panjang. Aamiin Allahumma aamiin.

Saidi, Jakarta 27 April 2012

Selasa, 22 Mei 2012

Roti Buaya Sebagai Lambang Kesetiaan


Roti Buaya Kembang Kelapa
Di Betawi buat arak-arakan
Biar kata ilmu gua belom seberapa
Tapi kalo udah bekelai, ucus lu gua keja berantakan..

Pantun di atas sering saya dengar dalam banyak kesempatan menyaksikan pertunjukan Palang Pintu. Dalam pantun di atas menunjukkan kerendahan hati sang penutur pantun. Dia mengakui kalau ilmunya belum seberapa alias masih sedikit. Tapi dia yakin kalo sudah berkelahi, dia mampu membuat usus lawannya berantakan. Ganas dan sadis sekali. Namun, itu semua hanya sandiwara belaka. Karena pantun-pantun dalam acara Palang Pintu memang kebanyakan seperti itu. Pantun jagoan. Yang bertujuan untuk menjatuhkan mental lawannya. Karena dengan berkata seperti itu, dia akan dianggap sebagai pendekar yang hebat. Dalam acara Palang Pintu, pihak Pengantin Lelaki membawa pendekar yang dipersiapkan untuk membuka Palang Pintu yang merupakan pendekar juga yang memang sudah dipersiapkan oleh pihak Pengantin Perempuan. Dan sudah bisa dipastikan kalau hasilnya adalah kemenangan bagi pendekar dari pihak lelaki. Karena kalau pendekar dari pihak perempuan yang menang, maka pernikahannya tidak jadi terlaksana, karena pihak laki-laki harus bisa masuk dan melewati rintangan dari Palang Pintu tersebut.

Sebelum rombongan besan lelaki bergerak menuju lokasi pernikahan, pihak pengantin laki-laki melakukan beberapa persiapan. Mulai dari mengumpulkan rombongan besan. Hingga mengumpulkan bingkisan-bingkisan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, untuk dibawakan dan diserahkan ke pihak perempuan. Di antara bingkisan itu ada sepasang sosok binatang buas yang biasanya ditakuti oleh manusia karena kebuasannya. Binatang tersebut adalah sepasang Buaya seukuran hampir 1 meter dengan seekor anak buaya disampingnya. Namun, kali ini binatang terebut tidak tampak kebuasannya, karena dia diikat dengan pita berwarna dan dibungkus dengan plastik bening dan dihias sedemikian rupa sehingga tampak cantik dan menarik. Kesan buas yang biasanya jadi image pada binatang tersebut seakan-akan sirna dan tergantikan oleh kesan menarik. 

Buaya tersebut bukanlah buaya sungguhan, tetapi roti buaya. Ya, roti yang dibentuk menyerupai buaya. Sepasang roti buaya dengan masing-masing didampingi oleh seekor anaknya. Roti buaya sengaja dianggap penting keberadaannya oleh masyarakat Betawi dalam acara tersebut. Acara seserahan yang dilakukan pihak lelaki kepada pihak perempuan. Bagi masyarakat Betawi, acara seserahan tanpa menyertakan Roti Buaya dianggap kurang afdhol. Sehingga, jika ada suatu acara seserahan dan rombongan besan membawa Roti Buaya, orang-orang pasti tahu kalau rombongan tersebut adalah masyarakat Betawi. Karena Roti Buaya sangat identik dengan pengantin Betawi.

Bagi kebanyakan masyarakat Betawi sendiri, Roti Buaya memiliki makna kesetiaan. Menurut informasi yang saya terima dari orang tua dulu, buaya jantan hanya kawin dengan 1 betina saja. Berbeda dengan burung merpati yang di setiap pernikahan orang-orang bule, sering dijadikan binatang ”pelengkap” dalam perayaan pernikahan. Berbeda lagi dengan buaya darat. Buaya darat merupakan julukan yang disematkan oleh masyarakat kepada lelaki yang memiliki kegemaran gonta-ganti pasangan. Roti buaya sendiri mengambil makna dari buaya asli yang selalu setia dengan pasangannya. Kalau tidak percaya, coba deh ditanyakan langsung ke buayanya. Hehehehe.. Jadi, bedakan ya antara Buaya Darat dengan Roti Buaya.

Saya teringat dengan acara pernikahan saya dulu. Saya yang merupakan putra Betawi dan tinggal di Rawa Buaya – Cengkareng, menikah dengan seorang gadis asal Jepara, Jawa Tengah. Pada saat pesta pernikahan kami, saudara dari istri saya datang dari Jepara ke Jakarta untuk mengikuti resespsi dan akad nikah kami. Ketika akad nikah, saya dan rombongan besan membawa berbagai macam bingkisan seperti halnya orang Betawi pada umumnya yang biasa disebut dengan Seserahan. Tidak ketinggalan pula sepasang roti buaya dengan seekor anak buayanya yang sudah dihias  sedemikian rupa supaya terlihat cantik dan menarik. Setelah pesta pernikahan selesai, roti buaya dibagikan ke tetangga. Tersisa tinggal 1 ekor roti buaya saja yang masih terbungkus rapi. Walhasil, roti buaya tsb dibawa oleh saudara-saudara pulang ke Jepara. Untuk dibagi-bagikan juga ke tetangga. Karena roti buaya sudah identik dengan masyarakat Jakarta. Roti Buaya tersebut dibawa tanpa dipotong-potong dulu, tetapi hanya dibungkus kertas koran saja, supaya tidak terlalu kelihatan kalau itu adalah roti buaya.

Jumat, 27 April 2012

MUDIK LEBARAN 2011 (Part 1) : Nikmatnya Rajungan


Bagi masyarakat Jakarta, setiap perayaan Hari Raya Idul Fitri atau biasa disebut dengan Lebaran sangat identik dengan yang namanya Mudik atau pulang kampung. Kegiatan mudik ini dilakukan oleh orang-orang pendatang yang tinggal dan bekerja di Jakarta. Mereka berbondong-bondong pergi meninggalkan kota Jakarta untuk menuju kampung halaman masing-masing. Ada yang pulang kampung ke daerah yang masih di Pulau Jawa, ada yang ke luar Pulau Jawa, bahkan ada yang sampai ke luar negeri. Ada yang menumpang Pesawat Terbang, Kapal Laut, Kereta Api, Bus, Sepeda Motor, bahkan ada yang mengendarai Bajaj. Bermacam-macam arah tujuannya dan angkutan yang digunakan. Namun dengan 1 tujuan yang sama, yaitu merayakan Hari Raya Lebaran di kampung halaman bersama keluarga dan sanak family. Bagi mereka kurang afdhol rasanya berlebaran tidak bersama keluarga dan orang tua.



Tidak terkecuali dengan para tetangga di sekitar rumah saya. Beberapa hari menjelang Lebaran, mereka sudah meninggalkan rumah mereka di Jakarta satu-persatu. Yang ada di Jakarta ketika Lebaran tiba adalah suasana menjadi lengang dan sepi. Jakarta yang setiap harinya selalu sibuk, macet di setiap jalan-jalannya. Ketika Lebaran tiba, berubah seolah-olah menjadi kota mati. Bahkan saya yang biasanya menempuh perjalanan berangkat dan pulang kerja paling cepat membutuhkan waktu 1 jam, pada saat-saat menjelang dan setelah Lebaran beberapa hari, hanya membutuhkan waktu paling lama setengah jam saja. Luar biasa. Jalan-jalan raya lengang dan sepi. Seolah-olah hanya saya saja yang masih ada di Jakarta. Maklumlah, saya kan kelahiran Jakarta dan asli anak Jakarta atau anak Betawi asli. Lahir dan besar di Jakarta. Dengan Bapak dan Ibu yang juga lahir di Jakarta. Bahkan semua kakek dan nenek saya juga lahir di Jakarta. Sehingga saya pun bisa dibilang putra Betawi asli.

Saya mencoba mengenang beberapa peristiwa dulu ketika saya masih kecil. Saat itu ketika masih tinggal di bilangan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Karena kami sekeluarga asli dari Kedoya. Dekat dengan Pondok Pesantren Asshidiqiyah. Dulu, ketika lebaran menjelang, banyak tetangga-tetangga yang berangkat untuk mudik lebaran. Tak terkecuali dengan para teman-teman masa kecil dulu. Mereka ikut orang tua mereka berangkat menuju kampung halaman mereka. Ada yang orang Jawa, orang Sunda, bahkan ada yang orang Ambon. Dalam benak saya ketika itu, mereka sungguh beruntung punya kampung halaman. Setidaknya setiap tahun, yaitu setiap Lebaran tiba mereka bisa jalan-jalan ke kampung halaman. Melihat pemandangan selama perjalanan, tinggal di desa dengan suasana yang masih asri. Udaranya sejuk. Bisa melihat gunung-gunung dan lautan. Oh.. betapa indahnya. Kala itu saya belum punya pemikiran bagaimana capek dan lelahnya orang-orang yang Mudik. Bahkan sampai mempertaruhkan nyawa demi mencium tangan atau memeluk orang tua mereka di Hari Raya seraya memohon maaf  kepada orang tua yang mereka anggap keramat. Mereka berkeyakinan, kesuksesan yang mereka miliki saat ini tidak lepas dari do’a orang tua mereka nun jauh disana. Saat itu saya hanya membayangkan kalau mudik itu adalah jalan-jalan, rekreasi atau semacamnya yang menyenangkan.

Sehingga akhirnya saya diberi kesempatan untuk merasakan sendiri rasanya mudik yang sesungguhnya. Ketika kakak saya (perempuan) menikah dengan seorang lelaki asal Garut, Jawa Barat. Hampir setiap tahunnya saya diajak ”pulang kampung” olehnya. Pertama kali ke Garut dengan menumpang bis. Sehingga nuansa rekreasi yang saya dapatkan kurang memuaskan. Karena selain tidak bisa menikmati pemandangan di lokasi-lokasi wisata selama perjalanan, juga di sana (Garut) saya tidak bisa leluasa jalan-jalan menyusuri kota Garut yang sejuk. Namun, pada kunjungan berikutnya, saya diajak berkendara sepeda motor berdua. Dengan bersepeda motor ini, saya mendapatkan nuansa cukup memuaskan --juga melelahkan--. Misalnya kita beristirahat di Puncak Pass. Memandangi perkebunan teh dan gunung-gunung sambil menghirup udara pegunungan yang segar. Dan ketika di Garut, saya diajak berkeliling dengan sepeda motor menyusuri kota Garut yang indah dan sejuk. Banyak gunung di sana. Sawah-sawah. Enak sekali dipandangnya. Ahh... nikmatnya. Walaupun dalam perjalanan sempat mengalami macet, setidaknya efek kemacetan yang saya rasakan jadi berkurang. Hampir setiap tahun kami berangkat dengan hanya berkendara sepeda motor saja.

Terakhir kali ikutan mudik ketika Lebaran tahun 2011 yang lalu. Ketika itu, kami mudik ke Jepara, Jawa Tengah. Lebih jauh dari Garut. Kali ini tidak dengan kakak ipar dan tidak mengendarai sepeda motor. Tapi dengan istri dan mertua sekeluarga. Dengan mengendarai mobil Isuzu Panther dan menyewa supir. Istri saya kelahiran Jepara, Jawa Tengah. Hanya saja besarnya di Jakarta. Jepara yang lebih dikenal sebagai kota ukir. Kota kelahiran pahlawan nasional R.A. Kartini. Pahlawan bagi kaum perempuan Indonesia. Yang katanya memperjuangkan emansipasi perempuan. Yang makna emansipasi itu sendiri sudah banyak dipelintirkan oleh sekelompok orang demi kepentingan mereka sendiri. Pahlawan yang terkenal dengan kalimat ”Habis Gelap Terbitlah Terang”. Yang setiap tahunnya dirayakan senasional sebagai Hari Kartini setiap tanggal 21 April.

Kami berangkat Sabtu malam tanggal 27 Agustus 2011, sekitar jam 10 an dari Jakarta. Dan baru tiba di Jepara hari Senin dini hari jam 3 an pas makan sahur. Jadi, menempuh perjalanan selama sekitar 29 jam-an. Dari waktu normal Jakarta – Jepara yang hanya 12 jam saja dengan menumpang bis malam. Ya iyalah, membandingkan dengan bis malam di hari-hari biasa. Tahu sendiri kan kalo bis malam itu tidak ada yang jalan. Semua pada lari. Hehehe.. alias bis malam itu kalau di jalan raya cepat sekali jalannya. Hari Minggunya makan sahur di daerah pertigaan Nagrek. Karena kondisi jalan padat merayap, jam 4-an kami baru tiba di Nagrek. Hawa dingin terasa sekali menusuk tulang. Makan sahur sambil istirahat sejenak. Kami sengaja lewat jalur Nagrek atau jalur selatan, karena di jalur Utara pastinya akan lebih parah kemacetannya. Bahkan kami sempat mengalami antrian di jalan tol. Tepatnya kepadatan terjadi di arah menuju Subang yang merupakan jalur Pantura. Kami ambil jalan lurus dan keluar di pintu Tol Cileunyi. Putar balik ke kana lewat jalur Nagrek. Selepas makan sahur yang hanya beberapa menit saja, kami melanjutkan perjalanan sambil mencari masjid untuk sholat subuh. Selesai Sholat Subuh, melanjutkan kembali perjalanan. Kondisi jalan masih padat merayap sampai ke Ciamis. Kami lewat jalur Selatan dan masuk Pantura melalui Slawi dan keluar di Tegal. Alhamdulillah jalur Pantura dari Tegal ke Jepara tidak ada kemacetan yang berarti. Lancar-lancar saja.

Setiba di Jepara hari senin sekitar jam 3 dini hari atau pas waktu makan sahur. Tak disangka kami sudah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh keluarga yang di Jepara. Setibanya di rumah, kami disuguhkan masakan Sea Food. Yaitu Rajungan kuah kuning. Asal tahu saja, rajungan merupakan salah satu makanan favorit ketika kecil. Namun, keberadaannya kini sudah jarang sekali. Jarang ada tukang ikan di pasar yang menjajakan rajungan. Kami makan dengan lahapnya. Alhamdulillah. Bagi saya, makan dengan lauk rajungan memiliki cerita sendiri. Yaitu ketika kecil dan belum sekolah, setiap pagi selalu lewat tukang ikan yang berjualan keliling dengan sepedanya. Kami biasa memanggilnya Bang Samin. Pada suatu hari, seperti biasa Bang Samin berhenti di depan rumah. Saya yang pertama kali melihat rajungan, belum kenal apa namanya. Saya hanya menyebutnya dengan sebutan binatang. Kemudian saya memanggil emak (Ibu) saya. “Mak.. beliin binatang dong mak... “. Emak saya bingung, binatang apa yang saya maksud. Ketika saya tunjukkan, barulah beliau tahu binatang apa yang membuat saya sedikit memaksa untuk dibelikan. “Ini namanya rajungan, bukan binatang” begitu penjelasan emak saya. Besok-besoknya, setiap Bang Samin datang dengan membawa rajungan, pastinya saya minta emak untuk membelikan. Emak juga sudah memesan ke Bang Samin, kalo bawa rajungan, tolong disisakan buat saya. Jadinya, setiap kali Bang Samin bawa rajungan, dia pasti memanggil saya “Edy, ada binatang nih Ed.. Mao kaga ?” Jawabannya pasti mau.

Kamis, 29 Maret 2012

DRAMA PALANG PINTU BETAWI


 sebuah adat pernikahan di tanah Betawi.


Salah satu kebudayaan Betawi yang sampai saat ini masih sering kita jumpai di pelosok-pelosok ibukota, terutama pada saat hajatan pesta pernikahan masyarakat Betawi. Palang Pintu Betawi merupakan salah satu budaya warisan leluhur yang dahulu kala tujuannya adalah untuk menunjukkan kalau anak Betawi itu adalah manusia yang memiliki ilmu beladiri yang mumpuni. Selain itu juga anak Betawi pandai dalam ilmu agama, dalam hal ini mengaji. Maka, dalam suatu pertunjukan Palang Pintu Betawi pastinya kedua belah pihak yaitu pihak mempelai wanita dan mempelai laki-laki saling adu keterampilan dalam hal ilmu beladiri yang biasa disebut Silat.


Bermula dari iring-iringan besan calon pengantin laki-laki menuju rumah calon pengantin perempuan. Di antara rombongan besan calon mempelai laki-laki ada tim hadroh/marawis yang menyenandungkan sholawat dengan alat musik pukul. Dan juga ada orang yang berpenampilan layaknya pendekar Betawi. Mereka inilah biasa disebut Jago yang nantinya bertugas untuk membuka Palang Pintu yang dipersiapkan calon mempelai perempuan.

Sedangkan di pihak mempelai perempuan sudah menunggu rombongan penerima tamu dan juga pastinya ada orang-orang yang berpenampilan layaknya pendekar Betawi. Mereka inilah yang biasa disebut dengan Palang Pintu. Untuk calon mempelai laki-laki, jika ingin menikahi calon mempelai perempuan, harus melewati mereka dulu dengan cara berkelahi atau adu keterampilan dalam ilmu Silat. Itulah syarat pertamanya. Jika syarat pertama ini sudah dipenuhi, maka calon mempelai laki-laki masih harus melalui syarat yang kedua. Yaitu menunjukkan keterampilannya dalam hal mengaji atau membaca Al Quran atau bersholawat yang biasa disebut dengan Sholawat Sikeh. Jika kedua syarat ini bisa dipenuhi, maka calon mempelai laki-laki dipersilakan untuk masuk ke rumah calon mempelai perempuan untuk menikahi sang pujaan hati.

Berikut adalah contoh skenario dalam pertunjukkan Palang Pintu Betawi. Ada beberapa pantun di bawah, penulis ambil dari berbagai sumber dan sebagian lainnya merupakan karangan penulis sendiri. Hal ini semata-mata karena harapan penulis agar salah satu Buadaya Betawi ini dapat semakin berkembang.

Jadi, selamat membaca.
 Rombongan Penganten Laki-laki berjalan menuju lokasi akad nikah sambil diiringin sholawatan dari tim Marawis/ Hadroh..

Tim Hadroh/ Marawis : Tholaal badru alaina.. minsaniyyaatil wada.. wajaba syukru alaina madaalillahidaa...

P. Pintu : Wooyy !!! Berenti !!! berenti bang berenti !!! Budeg apa luh pada ??
Ini ada apa ini gumbrang gambreng berisik aja luh disini... Apa luh pada kaga tau kalo majikan gua lagi punya hajat ?!!!

Besan : (sambil berenti) Emang kita pada mao kesitu bang... Mao nengokin calon mantu...

P. Pintu : Ehh bang... Naek mobil lewat kampung Setu... Nyayur labu parang bumbunya terasi.. Kalo mao ambil calon menantu... Liwat kampungan orang kudu permisi..

Besan : Oh jadi liwat sini kudu misi bang..???

P. Pintu : Lha iya.. emang luh kaga liat ada gua disini ??

Besan : Sebelonnya saya ucapin assalamualaikum bang..

P. Pintu : Waalaikum salam gua sautin...

Besan : bang.. Kalo sayur labu parang bumbunya terasi... jangan dibungkus dalem selampe.. Saya tau bang kalo mao liwat kampung orang kudu permisi.. Nyang saya kaga tau, emang abang ini siape ??

P. Pintu : Jiaahhh.. dia belon tau siapa kita ?? (ngomong sama temennya)...

P. Pintu 1 : Kasih tau dah bang... siapa kite..

P. Pintu : Bang... Beli tahu di pasar kote... makan gado-gado di Cikini...
kalo emang luh pengen tau siapa kite.. Kite ini jago kampung sini...

Besan : Ohh... abang jago kampung sini ?? kalo gitu bang... Nyok dah kita makan sekuteng di pasar jumat... Pulangnye mampir dulu ke Pinang Ranti... Saye ama rombongan dateng dengan segala hormat... Mohon diterime dengan senang ati...
P. Pintu : Oh.. rupanya lu dateng kemari udah ada niatan ??

Besan : Dari bedug subuh ampe bedug robek bang....

P. Pintu : Ehh buseehh.. tepoh amat bedug luh... Begini bang ye... Kalo belanja di pasar Kemiri.. jangan lupa beli bumbu masaknye.. Kalo luh udah pada niat dateng kemari.. Coba, gua pengen tau apa hajatnye...

Besan : Lhah... lah... emang belon dikasih tau bang ?

P. Pintu : belon... baru tempe doangan inih ama cabe rawit...

Besan : (nanya ke penganten).. bang, emang belon dikasih tau ke tuan rumehnye ?

Penganten laki : Udeh bang...

Besan : Bang,, ada siang ada malem .. ada bulan ada matahari.. kalo bukan lantaran perawan nyang di dalem.. kaga bakalan nih penganten laki saya anterin kemari...

P. Pintu : Ohh jadi luh dateng kemari lantaran perawan nyang di dalem.. Luh tau ajah disini ada perawannye...

Besan : bang,.. perawan sini mana sih nyang kaga kenal ama saya ???

P. Pintu : Ohh.. rupanya luh disini udah dikenal ama perawan2 sini ya ?

Besan : Kalo belon kenal ama saya, buruan dah kenalan, mumpung saya disini nih…

P. Pintu : Jiahh… kalih gua kata lu udah dikenal disini... Bang... Kaga salah lu nanem ari-ari... Tapi sayang kaga ada lampunye.. Emang kaga salah lu udah dateng kemari... tapi sayang tuh perawan udah ada nyang punye...

Besan : (nanya ke rombongan besan).. Kita kemari dia udah ada nyang punye ?? Terusin kaga nih ??

R. Besan : Terusin dah bang, terusin.. tanggung...

Besan : Bang asal lu tau aja ya... Crukcuk kuburan Cine... Kuburan Islam gua nyang ngajiin... Biar kata tuh perawan udah ada nyang punye... Tetep aja kita mao jadiin...

P. Pintu : Bang gua bilangin ya.. mendingan lu pergi ke Cikini dari pada lu pergi ke Senayan,,, ehh mendingan lu angkat kaki dari sini dari pada hajat lu kaga kesampean....

Besan : Waduuhhh.. ngusir lagi dia... Bang, Ibarat kata baju kepalang basah.. masak nasinye udah jadi bubur.. Ehh biar kata mati bekalang tanah.. Pantang bang kaga bakalan saya mundur...

P. Pintu : Jadi luh kaga mao mundur ??

Besan : Pegimana mao mundur di belakang gua rombongan besan...

P. Pintu : Ikan sapu-sapu mati ditusuk.. Dalem kuali kudu masaknye... Nih palang pintu kaga ijinin lu masuk.. Kecuali lu penuhin dulu persyaratannye..

Besan : Ohh, jadi kalo dapet perawan sini ada syaratnye bang..

P. Pintu : Ada.. mao jadi pelayan aja ada syaratnye... apelagi mao ambil anak perawan orang...

Besan : Bang.. ke Tenabang membeli limo.. jangan lupa sambel kecapnye... Kalo itu nyang abang mao.. sebutin dah bang syarat-syaratnye...

P. Pintu : Lu pengen tau syaratnye ?? Nih lu dengerin... Kuda lumping dari Tangerang, kedipin mata nyari menantu... Luh pada pasang kuping biar terang... Nih luh jatoin dulu gua punya palang pintu...

Besan : Ya udah, abang diem-diem, biar gampang saya jatoin... (sambil nyamperin palang pintunye, terus ngejatoin)

P. Pintu : jiahh ilahh... bukan begitu maksudnyah... Maksud guah, lu bekelai ama gua punya jago...

Besan : Ohh... bekelai maksudnya bang ??

P. Pintu : iya....

Besan : Bang.. kalo kedipin mata mo cari menantu... lu kudu cerita biar orang pada tau... Eh bang.. jangan kata palang pintu.. Palang kereta gua bejek jadi tahu...

P. Pintu : (ngomong ke temennye) Ehh busehh.. sakti ini orang bang ya... palang kereta dijadiin tahu... Buka bang.. kasih liat ke dia, kita punya maenan..

P. Pintu 1 : Bang.. beli gado-gado di bambu apus.. naek sepeda lurus jalannye.. Berapa banyak jago yang udah gua bikin mampus... ini dia bang jurus pukulannye... (Ngeluarin jurus-jurusnye...)

P. Pintu 1 : (usai unjuk permaenan)... ini baru daonnye, belom buahnye...

P. Pintu : Pegimana bang ?? kalo luh takut mendingan luh pulang...

Besan : Eiittt… Ntar dulu bang… Kalo kuda lumping nyari menantu.. Jangan lupa senyum simpulnya... Kalo abang punya palang pintu... Nih udah kita siapin tukang pukulnya... (ngomong ama Jago 1) Unjukin bang, biar dia pada jiper ngadepin kita...

Jago 1 : Bang.. Jalan-jalan ke Tanjung Pasir.. Naek kuda jalannya pelan… Ehh mendingan lu pada minggir… Sebelon kena gua punya pukulan… (keluarin jurusnya..) Tuh bang… kalo lu daonnye… ini gua kembangnye..


P. Pintu : (setelah Jago 1 keluarin jurusnya).. Bang.. Daon pepaya rasanye basi... Jangan dibuang ke pinggir kali.. Maenan sodara kayak kelenci.. mendingan pulang nikahin banci...

Jago 1 : Bang,,, Perahu layar jalannye lurus... sampe tenabang jalannye muter.. Waktu saya ngeluarin jurus.. Temen abang ngapa badannya gemeter... (sambil nunjuk P. Pintu 1).

P. Pintu 1 : Ehh.. bang.. Burung puter mati di lobang... dikuburnye di samping gudang... Gua gemeter bukan karena abang... Gua gemeter lantaran banyak perawan nyang pada mandang....

Jago 1 : Cuiihhh... eh Bang.. Cilincing pagernye tembok... emping ninjo kayak duit gobangan... Ehh lu kencing kaga cebok… Laler ijo pada kondangan..

P. Pintu 1 : Cilincing emang pagernya tembok.. Orang baru gua kelarin... Lu liat gua kencing kaga cebok... Lantaran baba luh yang ngajarin..

Jago 1 : Lu jangan bawa-bawa baba gua... kita berantem ajah dah..

P. Pintu 1 : Jadi lu ngajakin gua bekelai ?? bek kalo gitu, gua kepengen tau sampe dimana lu punya maenan ??

 Akhirnya mereka berdua (P.Pintu 1 dan Jago 1) saling bekelai. Dan pada pertandingan itu dimenangkan oleh Jago 1 dari pihak besan laki-laki.

P. Pintu : (ngomong ama P. Pintu 1), Ahh... payah lu ah... ama dia ajah bisa kalah.. Kapan semalem badan lu udah diisi...

P. Pintu 1 : Ama jimat bang ??

P. Pintu : Lha itu nasi sebakul, semalem siapa yang ngabisin ???

P. Pintu 1 : Diem-diem ajah ngapah bang.. jangan disebut2, jadi malu gua...

Besan : (ngomong ama penganten lelaki).. Tenang aja bang... lu bakal jadi kawin bang... (ngomong ama P. Pintu).. Bang, masing ade jagoan lu ??

P. Pintu : masing banyak bang.. ntar kalo abis, gua pake palang kereta..

Besan : ehh buseh.. palang kereta..

P. Pintu : Nih dia bang jago saya atu lagi...(mbari nunjuk P. Pintu 2) Asal tau aja bang, jurus dia jurus Cikuya.. Pagi makan sorenye kaga.. Ehh abang bole percaya bole kaga... Dia matiin orang sehari tiga..

Besan : Orang beneran bang ??

P. Pintu : Orang-orangan sawah...

P. Pintu 2 : Bang,, Kalo jalan ke Senayan... Ati-ati jalannya licin... Daripada hajat lu kaga kesampean.. lu pilih mati apa lu batalin ??

Jago 1 : Enak aja maen dibatalin.. gua udah jauh2 ari besiap2 maen dibatalin aja.. Bang.. Atasnya pisang dibawahnye jantung... mentah-mentah saya kelapain... biar kata nih pala kena kemplang kena pentung... Urusan Dia gua belain.. (sambil nunjuk penganten laki)...

P. Pintu 2 : Bang.. Tung-tung alang-alang.. Alang-alang empanan kude.. Gua kata mendingan lu pulang bang... Dari pada bini lu jadi jande...

Jago 1 : Tang Tang Gulintang.... Awan di atas bulan berkawan bintang... Abang kalo punya mulut jangan suka menantang.. ntar gua tendang jatoh celentang, gua masupin ke kurung batang...

P. Pintu 2 : Ehh bang.. mana kulon mana wetan.. rumah panggung biliknye papan... Orang-orang pada keringetan.. lantaran mayat geletak gua punya kekuatan...

Jago 1 : Di atas gonggo.. Di bawah gonggo... Ada gonggo item jangan dimatiin... Di situ jago... nih ketemu jago... Nyok kita berantem buat buktiin...

P. Pintu 2 : Ciaattttt....

 Akhirnya Jago 1 dari pihak lelaki bekelai ngelawan P. Pintu 2 dari Pihak perempuan.. Dan dalam pertandingan kali ini, dimenangkan oleh P. Pintu 2.
 Jadi sekarang posisinye 1 : 1



P. Pintu : Lu tetep bekeras pengen masuk bang ?

Besan : Iya bang.. pantang mundur... bang.. Daon kelor enak dimakan.. apa lagi dicampur ama ikan peda... Ama pelor aja dia udah kaga mempan... Kecuali di goda janda...

P. Pintu : Ilok jagoan kalahnya ama janda....

Besan : (ngomong ama Jago 2).. Maju bang, lu adepin tuh Palang Pintu...

Jago 2 : (ngomong ama Besan) Iya bang.. abang diem-diem aja disini...
(ngomong ama P. Pintu) Bang.. Uler sawah uler beludak.. nyusurin jalan di tanah licin... Kalo gua udah bertindak.. Ntar nasi prasmanan bisa gua abisin...

P. Pintu : Besan kemaruk...

Besan : (ngomong ama Jago 2) Lu bikin malu ajah.. Masa lu mao abisin sendiri..

P. Pintu 2 : Bang,., Blarak kayu jati.. Blaraknya dari Ciapus.. begerak lu mati.. kaga begerak lu mampus...

Jago 2 : Kancil berlari di pinggir Setu... Ambil gala terus tancepin... Sendiri jatoin palang pintu.. Nih orang yang belon pernah kalah bakal ngadepin..

P. Pintu 2 : Bang... Palmereh banyak Cinenye.. Rawa Belong banyak Betawinye... Ehh baju mereh gua gak kenal namenye.. Begerak dikit bolong lu pipinye...

Jago 2 : Bang.. nih lu kenalin.. nama gua Rojali.. Orangnya item matanye jeli.. Ini ari musuh gua kaga cari.. kalo udah berantem, pantangan buat lari...

P. Pintu : Lu kaga mo lari juge ??

Jago 2 : Pegimana mo lari.. ada rombongan bego...

P. Pintu 3 : Bang,, Tung-tung alang-alang... alang-alang makanan sapi... Kalo emang lu kaga mao pulang.. berati lu udah siap bakalan mati...

Jago 2 : Bang,.. Roti Buaya kembang kelapa di Betawi buat arak-arakan... Eh biar kata ilmu gua belom seberapa.. kalo udah kena bekelai, ucus lu gua keja berantakan...

P. Pintu 3 : Bang.. kalo kata orang sini ya.. Maaf-maafan bukan cuman Lebaran.. Kalo perlu tiap ari asal penuh kesadaran.. Kalah menang kaga jadi ukuran.. Nyang penting kita jalin persodaraan...

Jago 2 : Gua demen begini.. (sambil julurin tangan buat salaman)...

P. Pintu 3 : Kaga pake bekelai kite.. (sambil nyambut salaman)... (tiba-tiba)... Ciaaattt..... (ternyata cuman boongan aja...)

Jago 2 : Wahh... Jagoan tukang boong...

 Akhirnya P. Pintu 2 dan P. Pintu 3 dari pihak Perempuan bekelai ngeroyok Jago 2 dari pihak Lelaki. Di tengah perkelahian, mereka adu pantun kembali....

Jago 2 : Bang... Ke Glodok beli menjangan... Jangan lupa bawain gua ikan tongkol... Dari pada itu golok bakal pajangan.. mending lu kasih si Udin buat ngupasin jengkol..

P. Pintu 2 : (sambil ngeluarin golok)... Asal lu tau aja bang.. Ini golok gua satu-satunya dari Cibatu... Dibikinnya di bulan Maulud tanggal satu... Lu di depan gua jangan belagu.. Ntar gua tenggel pala lu buat ganjelan pintu.

P. Pintu 3 : (Nanya ke Jago 2)... Lha, lu sendiri itu golok ngapa kaga lu keluarin bang ?

Jago 2 : Asal lu tau aja bang... Tadi ada orang Jawa minta dianterin ke Glodok... Mao beli keran yang rada panjangan... Ehh.. kalo gua udah keluarin ini golok... Tujuh kelurahan pada kemalingan...

Besan : Asal jangan abis mantun ntar lu di bawa ke Polsek...

 Mereka bekelai kembali dengan sengit sambil menggunakan senjata mereka yaitu GOLOK...
 Dan... pertandingan kali dimenangkan dengan susah payah oleh Jago 2 dari pihak lelaki...

Besan : Pegimana bang... ? Jagoan abang udah pada koit bang.. apa rombongan saye udah bole masup ??

P. Pintu : Ntar dulu bang.... Manisan Cerme jangan diabisin... makan nasi di atas bale.. Syarat pertame udah abang penuhin... Tapi masih ada syarat nyang kedue..

Besan : Masih ada lagi bang syaratnye ? Sebutin dah bang....

P. Pintu : Bang.. Tukang sekuteng dagangnya malem.. Jalannye muter ke pasar Kranji... Saye minte abang kaga cuman jago berantem.. tapi saya pengen denger abang pada ngaji...

Besan : Cuman itu bang syaratnye ?

P. Pintu : Kalo itu bisa.. silakan dah masup bang...

Besan : Bang.. Tumbuk ketan jadiin uli.. Ulinye juga kudu ditapein... Betaun-taun anak Betawi belajar ngaji... Nih Sikehnye tulung dengerin...

 Sikeh pun dilantunkan dengan merdu dan jelas...

Besan : Pegimana bang ?? Apa ada lagi syaratnya bang ?

P. Pintu : Udah bang... Silakan dah abang ama rombongan pada masup bang...

Besan : Bang... Siang ari di Gondasari.. kalu malem ada di Munjul.. Ini ari dia mukanye beseri.. Lantaran besok malem dia mao macul...

 Dan... Lagu Sholawat pun dinyanyikan oleh Tim Marawis/ Hadroh mengiringi masuknya penganten Lelaki ke rumah Penganten Perempuan... Dan Drama Palang Pintu pun usai...








Deskripsi :

 Para Jago dari rombongan besan lelaki menggunakan pakean serba merah, khususnya Jago 2 dalam naskah di atas.

 Para Jago dari rombongan palang Pintu pihak Perempuan, menggunakan pakean bebas (selaen merah), kalo bisa warna item.

 Besan (Jubir), Jago 1 dan Jago 2 merupakan dari rombongan pihak Laki-laki. Sedangkan, P. Pintu (Jubir), P. Pintu 1, P. Pintu 2 dan P. Pintu 3 merupakan dari pihak Perempuan.

 akan ditentukan kemudian.