Jumat, 27 Juli 2012

Puasa Ramadhan

Mesjidil Harom
Puasa itu ada dua macam, puasa fardhu dan puasa tathawwu' atau puasa sunnah. Puasa fardhu ada tiga macam, yaitu puasa Ramadhan, puasa Kaffarah dan puasa Nadzar.
Puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban yang di bebankan oleh Allah SWT kepada kita. Ia merupakan rukun Islam yang keempat. Kewajiban tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa Ramadhan sebagaimana diwajibkannya puasa itu kepada umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, agar kalian bertaqwa." (Al-Baqarah: 183).

Arti Puasa
Puasa secara bahasa (Etimologi) berarti al-imsaak (menahan). Maksudnya menahan dari apa saja. Menahan dari bicara berarti puasa bicara, menahan dari tidur berarti puasa tidur, menahan dari makan dan minum berarti puasa makan dan minum, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT di bawah ini:
"Inni Nadzartu lirrahmaani Shauma" (sesungguhnya aku bernadzar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa). (Maryam: 26). Puasa di sini maksudnya menahan diri dari berbicara.
Sedang menurut istilah ulama fiqh (terminologi), puasa berarti menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat pada malam harinya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari..


Keutamaan Puasa 

1. Puasa itu untuk Allah (sebagai penghargaan dari-Nya), bukan untuk manusia. Artinya Allah-lah yang langsung membalasnya.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadis Qudsi-Nya), "Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya ganjaran Puasa itu merupakan benteng, maka ketika datang saat berpuasa, janganlah seorang berkata keji atau berteriak-teriak atau mencai-maki. Seandainya dia dicaci oleh seseorang atau diajak berkelahi, hendaknya dia menjawab, 'saya ini berpuasa' dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada 'tangan'-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum daripada bau minyak kesturi. Dan orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan yang menyenangkan hati, yaitu di saat berbuka, ia akan bergembira dengan berbuka itu dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan bergembira dengan puasanya." (HR Muslim, Nasa'i dan Ahmad).
Dalam riwayat yang lain disebutkan, "Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan mencaki-maki. Seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencaci-makinya, hendaklah ia berkata, 'saya ini berpuasa' dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kesturi. Ia meninggalkan makan dan minum dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberinya pahala. Sedang setiap kebajikan itu akan mendapat pahala sepuluh kali lipat." (HR Bukhari dan Abu Daud)

2. Apabila puasa itu dilaksanakan dengan baik dan benar, ia akan bisa memberikan syafa'at kepada orang yang melakukannya.
"Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, 'Ya Tuhan, Engkau larang ia makan dan memuaskan syahwatnya di waktu siang dan sekarang ia meminta syafaat kepadaku karena itu'. Lalu Alquran pun berkata, 'Engkau larang ia tidur di waktu malam, sekarang ia meminta syafaat kepadaku mengenai itu.' Akhirnya, syafaat kedua mereka pun di terima oleh Allah SWT." (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

3. Puasa akan dapat memasukkan orang yang melakukannya ke sorga dan menjauhkannya dari neraka.
Dari Abu Umamah berkata, saya datang kepada Rasulullah saw lalu saya berkata kepadanya, "Perintahlah aku dengan semacam amal yang akan dapat memasukkanku ke sorga", maka Nabi saw bersabda: "Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingannya". Lalu aku datangi Nabi untuk kali keduanya, maka Nabi saw bersabda: "Hendaklah kamu berpuasa." (HR Ahmad, Nasa'i dan Hakim seraya menshahihkannya).
Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, Nabi saw bersabda, "Tidaklah seorang hamba itu berpuasa satu hari karena Allah kecuali Allah mesti menjauhkan dirinya dari neraka sebab puasa itu selama tujuh puluh tahun." (HR al-Jama'ah [sekelompok ulama hadis] kecuali Abu Daud).
Dari Sahl bin Sa'd, Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya sorga itu mempunyai sebuah pintu yang disebut 'ar-Rayyan' (artinya basah yang melimpah). Pada hari Kiamat akan dipanggil-panggil: "Hai, mana orang-orang yang berpuasa?" Lalu bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutupkanlah." (HR Bukhari dan Muslim).


Keutamaan Bulan Ramadhan

1. Pintu-pintu sorga (jalan-jalan menuju kebaikan) dibuka, pintu-pintu neraka (jalan-jalan menuju amal jelek) ditutup dan syetan-syetan (provokator amal kejahatan) dibelenggu Allah SWT.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda -yakni ketika datang bulan Ramadhan-, "Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kamu berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang nilainya lebih berharga daripada seribu bulan. Maka, barangsiapa tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkan kebaikan itu selama-lamanya." (HR Ahmad, Nasa'i dan Baihaqi).

2. Orang yang melakukan kebaikan di bulan itu diperintah berbahagia dan orang yang melakukan kejahatan di bulan itu diperintah berhenti.
"...dan seorang malaikat akan berseru, 'Wahai pencari kebaikan, bergembiralah. Wahai pecinta kejahatan, berhentilah." (HR Ahmad dan Nasa'i dengan sanad yang baik).

3. Puasa Ramadhan yang kita lakukan ini menjadi pelebur atas dosa -dosa yang telah kita lakukan dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, "Salat yang lima waktu, Salat Jum'at yang satu ke salat Jum'at yang lain itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat di antara masing-masing selama dosa besar itu dijauhi." (HR Muslim).

4. Apabila puasa Ramadhan itu dilakukan dengan ikhlas, maka diampunilah semua dosa-dosanya yang telah lampau.
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan ridha Allah SWT, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu." (HR Ah Ahmad, dan Ashabus Sunan).


Referensi:
1. Fiqhus Sunnah, Sayyid sabiq
2. Tamamul Minnah, Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Rabu, 25 Juli 2012

Mudik Lebaran (Part 2) : Sholat Ied 1432 H (2011) di Kampung Orang

di Pantai Kartini


Hari-hari di Jepara kami lalui dengan berpuasa, “menghabiskan” sisa hari di bulan Ramadhan menjelang Lebaran. Walaupun cuaca saat itu cukup panas (lebih panas dari Jakarta lho), bahkan menurut saudara istri saya di Jepara jarang sekali turun hujan. Sehingga menambah daftar godaan selama berpuasa di sana. Tapi Alhamdulillah selama niat kita mantab, sisa hari puasa di Jepara dapat kami lalui dengan sempurna. Bahkan selama perjalanan menuju Jepara yang mana di hari Minggunya kami masih di jalan sambil berpuasa, dapat kami lalui sampai Maghrib tiba. Hari Senin yang merupakan hari pertama kami di Jepara dan juga H-2 Lebaran, kami lalui dengan beristirahat dan bermalas-malasan di rumah Bude (Bibi) istri saya. Sambil ngobrol dan bercerita dengan saudara-saudara dan kerabat di sana. Kami menceritakan segala hal, mulai dari perjalanan kami ke Jepara yang cukup memakan waktu sampai hal-hal lainnya. Sehingga waktu sudah sore, menjelang waktu berbuka puasa. Kami berbuka puasa di rumah saja. Selain dikarenakan waktu Sholat Maghrib yang hanya sebentar saja ---kalau berbuka di luar, khawatir waktunya tidak cukup untuk sholat Maghrib---, malam itu kalau mengikuti kalender seharusnya sudah malam takbiran yang keesokannya adalah hari Raya Iedul Fitri 1432 H, namun belum ada keputusan dari Pemerintah. Maka, kamipun menunggu keputusan Pemerintah dengan bersama-sama menonton acara sidang Ishbat penentuan akhir Ramadhan di televisi. Sehingga menghasilkan keputusan kalau Puasa Ramadhan ditambah 1 hari lagi. Berarti hari Lebaran adalah esok lusa. 
Esok sorenya, sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami menyempatkan diri untuk belanja ukir-ukiran khas kota Jepara. Di sebuah jalan (saya lupa nama jalannya), banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang ukir-ukiran seperti pot bunga, tempat menyimpan gelas air mineral, jam dinding, kaligrafi, serta ukir-ukiran hiasan lainnya sampai bufet dan lemari. Di sana saya hanya membeli sebuah lekar ukir untuk meletakkan Al Quran ketika kita akan membacanya. Istri saya membeli hiasan sepeda ontel kayu dan jam dinding kayu model sauh kapal laut. Semua ukir-ukiran itu murni terbuat dari kayu jati. Sekembalinya dari toko ukiran, kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami diajak sama mas Tasrif (kakak ipar) untuk melihat-lihat koleksi pohon bonsainya. Dia mengajak kami ke sebuah kebun yang disana banyak sekali pohon bonsai yang dirawat oleh beliau dan teman-temannya. Bagus-bagus sekali pohon-pohon koleksinya. Bahkan ada pohon yang timbuh di atas batu atau batang pohon yang sudah kering, namun tumbuh ranting kecil hijau dan daun-daun segarnya. Ketika sudah hampir maghrib, kami segera pulang untuk berbuka puasa di rumah. Sekaligus merayakan malam takbiran. 


Ukiran Khas Jepara
Akhirnya malam takbiran pun tiba. Kami keliling kota Jepara. Katanya, kalau malam takbiran disini ramai, ada pawai, karnaval dari anak-anak sampai orang dewasa. Ternyata benar. Baru saja kami keluar rumah, dikejutkan dengan suara lantunan takbir yang menggema. Walaupun sumber suaranya masih jauh, namun gema takbirnya membahana sampai ke telinga. Dari kejauhan kami melihat nyala api yang berkobar di ujung obor. Ada hiasan kembang kelapa. Anak-anak yang memainkan bedug sambil bertakbir. Sungguh pemandangan yang jarang saya temui di ibukota Jakarta. Meriah sekali suasananya.

ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR..
LAA ILAAHA ILLALLOHU ALLOHU  AKBAR..
ALLOHU AKBAR WALILLAHILHAM..

Takbir Keliling
Dari rumah, kami berjalan berkeliling kota Jepara dan menuju ke alun-alun kota yang berdekatan dengan museum KARTINI. Di sana, menurut informasi yang saya terima, ada acara Festival Bedug antar Sekolah Menengah Atas se-Jepara. Wahh... Jadi penasaran. Karena selama ini saya hanya melihat acara Festival Bedug melalui televisi. Di perjalanan, saya menjumpai suasana yang tidak asing saya jumpai di Jakarta ketika malam takbiran. Yaitu, antrean sepeda motor untuk memasuki tempat acara. Penuh sesak dan macet. Walaupun tidak separah Jakarta, saya kaget juga karena masyarakat Jepara lebih suka pawai keliling kota menggunakan sepeda motor, sama halnya dengan masyarakat Jakarta. Kami tiba di alun-alun dan langusng menuju ke depan panggung untuk lebih menikmati acara. Tak beberapa lama acara dimulai setelah sebelumnya diisi dengan sambutan oleh para petinggi Kota Jepara. Para pesertanya adalah para siswa-siswi SMK-SMA se JEPARA. Meriah sekali acara tersebut. Dan penampilan para pesertanya sungguh luar biasa. Bahkan juga ada acara pesta kembang apinya. Ramai dan meriah sekali alun-alun Kota Jepara ini, seolah-olah semua masyarakat Jepara berkumpul di satu tempat ini. Sekitar jam 10 malam, kami memutuskan untuk pulang, karena besok harus bangun pagi-pagi untuk sholat Ied.

Ketika hari Lebaran tiba, kami sholat Ied di mesjid terdekat. Seumur-umur, belum pernah yang namanya berlebaran dan Sholat Ied di kampung orang. Saya selalu merayakan Hari Lebaran dan sholat Ied di Jakarta. Setiap tahunnya, setelah pulang dari Sholat Ied, saya selalu mencium tangan, mencium pipi kanan dan kiri seraya memeluk erat tubuh kedua orang tua. Sebagai tanda hormat dan takzim saya kepada beliau. Sehingga air mata menetes tatkala mengingat kenakalan-kenakalan yang sering saya lakukan kepada mereka.  Pada saat Sholat Ied, Khotib membacakan khutbah yang cukup membuat saya terharu. Khutbah tersebut berhasil membuat air mata menetes di pipi. Memang bahasa yang digunakan ada bahasa Jawanya yang saya tidak mengerti. Namun juga dicampur dengan bahasa Indonesia, sehingga saya menangkap maksud dari khutbahnya. Intinya sang Khotib menekankan untuk menghormati kedua orang tua. Hari Lebaran ini adalah momen yang pas untuk kita saling bermaaf-maafan, terutama kepada orang tua yang telah berjasa melahirkan dan membesarkan kita. Bahkan orang tua senantiasa berdo’a untuk semua kebaikan kita. Hal inilah yang membuat kepala saya tertunduk dan mengenang kembali kenakalan-kenakalan saya kepada mereka. Saya belum bisa membuat mereka bangga dan bahagia. Sampai saat ini hanya do’a yang bisa saya panjatkan untuk mereka. Air mata menetes dan membasahi pipi. Sungguh sebuah pengalaman pertama berlebaran di kampung orang dan jauh dari orang tua.

Selesai Sholat Ied saya pun kemudian mengambil Handphone dan mencoba menelepon ke Jakarta. Ternyata Nomor yang saya tuju tidak diangkat teleponnya. ”Ahh.. Nanti siang-siangan saja. Mungkin sekarang lagi pada sibuk bersilaturahmi dengan tetangga” pikirku. Nuansa dan suasana Lebaran di Jepara tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Yang muda berkeliling mengunjungi yang tua. Meminta maaf dan saling cipika cipiki bagi kaum wanitanya. Kami yang lelaki cukup berjabat tangan saja. Makanan dan minumannya pun tidak jauh berbeda dengan yang ada di Jakarta saat ini. Terutama Kacang Gorengnya, sama saja. Siangnya saya mencoba menelepon kembali ke Jakarta. Yang menerima ibu saya yang biasa saya panggil dengan sebutan emak. Tanpa sempat berkata-kata, air mata langsung membasahi pipi. Dengan terbata-bata, saya meminta maaf kepada beliau dan semuanya. Di ujung telepon, saya mendengar suara serak-serak basah emak saya yang juga sedang menahan emosinya untuk tidak terlalu larut dalam tangisan. Alhamdulillah. Hati serasa plong setelah mendengar suara emak. Sungguh hebat jaman sekarang, walaupun terpisah oleh jarak yang cukup jauh, kita masih bisa berkomunikasi dengan orang lain. Subhanalloh.

Keesokan harinya yaitu hari Kamis, 01 September 2011 pagi, kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Rencananya kami pulang ke Jakarta hari Rabu. Namun, karena keputusan Pemerintah yang menyatakan bahwa tanggal 1 Syawal 1432 H atau Hari Raya Iedul Fitri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, padahal di kalender menunjukkan tanggal 30 Agustus 2011 untuk Hari Raya Iedul Fitri 1432 H. Sehingga liburan kami jadi bertambah 1 hari. Kami mengecek kondisi mobil, apakah masih stabil atau ada yang bermasalah. Alhamdulillah kondisi mobil masih sehat-sehat saja. Sebelum berangkat pulang, kami sekeluarga besar menyempatkan untuk foto-foto di depan rumah. 3 generasi berfoto bersama. Mulai dari bude yang paling ”senior” di antara kami, kami sebagai anak-anaknya, hingga keponakan-keponakan kami. Akhirnya, jam 9 pagi kit meluncur berangkat menuju Jakarta, setelah berpamitan dengan semuanya. Kami sengaja mengambil waktu pulang hari itu, karena kami memprediksi kalau saat itu suasana lalu lintas untuk arus balik masih agak sepi. Karena baru H+1. Alhasil, sepanjang perjalanan tidak ada kemacetan yang berarti. Perjalanan lancar-lancar saja. Kami lewat Jalur Pantura, melalui Kudus, Semarang, Pemalang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Cirebon, Indramayu.

Saya duduk di bangku depan samping sopir. Penumpang yang lain, termasuk istri saya terlelap tidur karena kelelahan di sepanjang perjalanan. Saya tidak bisa tidur, karena inilah impian saya. Menikmati perjalanan jauh. Sepanjang perjalanan mata saya memandang kesana kemari menikmati pemandangan di setiap kota yang kami lewati. Saya juga bertugas sebagai semacam Navigator bagi sang supir. Supir mengendarai kendaraan dengan penuh konsentrasi, saya sibuk menajamkan penglihatan saya membaca plang arah tujuan yang terpasang di setiap perempatan atau lampu merah. Alhamdulillah, sekitar jam 2 dini hari Jum’at 02 September 2011, kami tiba di rumah dengan selamat dan utuh tidak kekurangan suatu apapun. Kedatangan kami rupanya ditunggu-tunggu sama orang tua saya. Mereka tidak bisa tidur menunggu kedatangan kami. Alhamdulillah kami tiba di Jakarta dengan selamat. Sungguh pengalaman Mudik yang menyenangkan dan juga melelahkan. Saya baru tahu rasanya mudik yang sebenarnya. 

Terdampar di Pinggir Pantai

Sementara di Lebaran Tahun 2012/ 1433 H ini, sepertinya kami tidak akan kemana-mana. Hal ini dikarenakan kami mempunyai urusan yang lebih penting. Yaitu menyambut kehadiran calon anggota baru di keluarga kami. Ya.. Insya ALLAH istri saya akan melahirkan di bulan Agustus yang bertepatan dengan bulan Puasa tahun ini. Tepatnya Insya ALLAH 1 minggu sebelum Lebaran menurut perhitungan dokter yang memeriksa kandungan istri saya. Mohon do’anya ya, semoga istri saya dan bayi yang dikandungnya diberi kesehatan, dilancarkan dan dipermudah persalinannya nanti. Dan keduanya diberikan keselamatan dan kesehatan serta umur yang panjang. Semoga kita semua juga senantiasa diberi kesehatan dan umur yang panjang. Aamiin Allahumma aamiin.

Saidi, Jakarta 27 April 2012

Senin, 28 Mei 2012

(*) Nonton Lenong : Kembalinya 3 Perampok Bengis (*)


Adegan pertama dalam suatu pementasan Lenong Betawi (Lenong Preman) yang selama ini saya saksikan selalu sama. Yaitu, pertama-tama keluarlah sosok pendekar berpakaian hitam, berwajah sangar, berambut gondrong dengan lenggak-lenggok layaknya seorang jagoan hebat. Dia keluar dari balik layar yang bisa dikerek dan diganti gambarnya sesuai dengan kondisi adegan yang ditampilkan. Dia menghentakkan kaki ke lantai panggung yang terbuat dari papan, sehingga berbunyi nyaring sekali dan cukup mengagetkan penonton. Tetapi, itulah menariknya. Terkesan sangar dan hebat. Di pinggangnya terselip sebilah golok. Di jari jemarinya terpasang beberapa cincin batu akik yang agak besar. Sehingga kesan jagonya semakin terlihat. Dari atas panggung di depan layar bergambar, dia berdiri. Diambilnya mic yang tergantung di atap panggung dan didekatkan ke mulutnya. Kemudian dengan suara khas jagoan yang dibuat seseram dan seserak mungkin, dia melakukan salam khas dan perkenalan ke para penonton.


UHHUUUYYYYY…
Nih Barong Gua Punya Nama
Rawa Becek Tempat Tinggalnya
Begal, Rampok, Perkosa, Judi Kerjaannya
Sebelon Kita Ketemu Kawannya,
Kita Liat Dulu Permaenannya...

Kemudian musik pun mengalun. Perpaduan dari berbagai macam alat musik tradisional dan modern  seperti, gambang, kromong, tehyan, gendang, gong, suling, gitar dan lain sebagainya. Irama musik biasanya memainkan sebuah lagu tradisional Betawi yang biasa disebut lagu gambang kromong. Sambil musik mengalun, dari atas panggung di depan layar, sang jago melakukan gerakan pencak Silat. Gerakannya sesuai dengan irama musik. Serasi sekali. Sehingga enak dilihat dan juga enak didengarnya. Dalam adegan tersebut, sang pendekar hanya memainkan jurus sekedarnya saja. Sebagai pembuka. Maksud dari kalimat yang diucapkannya sebagai perkenalan, dia ingin supaya para penonton tahu siapa dia. Berperan sebagai apa dia pada pertunjukan itu. Dia berperan sebagai penjahat. Kaki tangannya si Tuan Tanah yang biasanya memeras rakyat kecil dengan Pajak Tanah yang sangat besar nilainya. Dia tidak sendiri. Biasanya dalam pertunjukan Lenong Betawi, ada tiga atau empat pemain yang berperan sebagai penjahat. Dengan dua atau tiga anak buah yang dipimpin langsung oleh seorang Mandor. Mulai dari yang pertama keluar biasanya berilmu paling rendah sampai terakhir sang Mandor yang paling ditakuti oleh anak buahnya. Sang Mandor ini berdandan paling seram dan lebih terlihat gagah ketimbang anak buahnya. Biasanya, setiap bertemu lawan, diawali oleh penjahat yang ilmunya paling rendah. Jika kalah, digantikan sama yang nomor dua dan seterusnya. Sampai akhirnya jika anak buahnya kalah berkelahi melawan musuh, barulah sang Mandor yang maju menghadapi musuh. Begitulah alurnya. Jadi, siapa yang paling jago, siapa yang pemimpin, pasti majunya belakangan. Pekerjaan mereka adalah merampok dan menjadi kaki tangan si Tuan Tanah dengan menarik pajak kepada masyarakat. Bahkan dalam suatu adegan, mereka tidak segan-segan untuk membunuh orang-orang yang dianggap menghalangi kegiatan mereka.

Namun, ada yang menarik dari sosok sang Mandor. Selain berpenampilan sangar dan seram, sang Mandor juga bisa melucu. Misalnya dengan pemakaian kata-kata yang hampir sama bunyinya namun memiliki makna yang berbeda. Selain itu, sang Mandor juga akan bergoyang jika di tengah-tengah dialog, musik dimainkan. Tujuannya hanya sekedar melucu. Jadi, tidak melulu seram dan bengis saja yang ditampilkan. Karena itulah karakter dari kesenian Lenong, yang merupakan lakonan yang bertujuan untuk menghibur masyarakat. Bahkan dalam suatu dialog dengan anak buahnya membahas tentang rencana perampokan dan mendatangi kediaman si Tuan Tanah, musik mengalun dan sang Mandor pun ikut bergoyang menikmati irama musik. Ketika musik selesai mengalun, sang Mandor berdialog dengan salah satu pemain musik, sebut saja namanya IJAN.

Mandor           : Jan.. busehh.. hebat juga lu Jan..
Ijan                  : Hebat ya..
Mandor           : Iya.. Lu kemari naek apa Jan ?
Ijan                  : Naek Angkot...
Mandor           : Naek angkot ? Besok lu ikut gua ya, jangan naek angkot.
Ijan                  : Ohh.. Naek motor ?
Mandor           : Jangan naek motor, ntar nabrak.
Ijan                  : Kalo gitu naek mubil ?
Mandor           : Mubil lagi, bedempel (berhimpit-himpitan).
Ijan                  : Abis, naek apa dong bang Mandor ?
Mandor           : Naek pengki gua seret..
Ijan                  : Buseh..
Mandor           : Kalo naek pengki kaga ada nabraknya.

Adegan berganti ke setting yang lain dan layar diganti dengan layar yang bergambar sesuai dengan adegan yang akan ditampilkan, sambil diirigi alunan lagu gambang kromong. Layar bergambar ini berfungsi sebagai gambar latar yang disesuaikan dengan adegan yang ditampilkan saat itu. Misalkan ketika adegan yang tampil adalah orang kampung yang miskin, maka latar belakangnya adalah persawahan atau gubuk reyot dan pepohonan. Sehingga suasananya benar-benar seperti di kampung. Para pemainnya pun berdandan dan berpenampilan serta bergaya layaknya orang kampung yang miskin dan melarat. Atau ketika saatnya adegan yang menceritakan kehidupan orang kaya. Latar yang ditampilkan adalah gambar sebuah bangunan rumah gedong. Dan pemain yang tampil dalam adegan tersebut adalah biasanya diawali seorang pembantu. Kemudian, barulah sang majikan yang keluar. Dengan berpakaian parlente, berdasi dan berjas. Dengan gaya bahasa yang formal. Sang majikan ini biasanya punya seorang pengawal pribadi atau masyarakat Betawi menyebutnya Centeng. Dengan berpakaian layaknya pendekar, namun masih ada kesan rapi dan berwibawa ketimbang para perampok-perampok yang disebutkan di atas. Centeng ini juga memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni. Makanya dia dipakai jasanya sebagai pengawal pribadi dari orang kaya. Orang kaya disini merupakan orang kaya sekampung. Bukan Tuan Tanah, namun hanya rakyat biasa. Hanya saja memiliki harta benda yang lebih daripada para tetangganya.
(Saidi Ahmad : Betawi, 28 Mei 2012)

Selasa, 22 Mei 2012

Roti Buaya Sebagai Lambang Kesetiaan


Roti Buaya Kembang Kelapa
Di Betawi buat arak-arakan
Biar kata ilmu gua belom seberapa
Tapi kalo udah bekelai, ucus lu gua keja berantakan..

Pantun di atas sering saya dengar dalam banyak kesempatan menyaksikan pertunjukan Palang Pintu. Dalam pantun di atas menunjukkan kerendahan hati sang penutur pantun. Dia mengakui kalau ilmunya belum seberapa alias masih sedikit. Tapi dia yakin kalo sudah berkelahi, dia mampu membuat usus lawannya berantakan. Ganas dan sadis sekali. Namun, itu semua hanya sandiwara belaka. Karena pantun-pantun dalam acara Palang Pintu memang kebanyakan seperti itu. Pantun jagoan. Yang bertujuan untuk menjatuhkan mental lawannya. Karena dengan berkata seperti itu, dia akan dianggap sebagai pendekar yang hebat. Dalam acara Palang Pintu, pihak Pengantin Lelaki membawa pendekar yang dipersiapkan untuk membuka Palang Pintu yang merupakan pendekar juga yang memang sudah dipersiapkan oleh pihak Pengantin Perempuan. Dan sudah bisa dipastikan kalau hasilnya adalah kemenangan bagi pendekar dari pihak lelaki. Karena kalau pendekar dari pihak perempuan yang menang, maka pernikahannya tidak jadi terlaksana, karena pihak laki-laki harus bisa masuk dan melewati rintangan dari Palang Pintu tersebut.

Sebelum rombongan besan lelaki bergerak menuju lokasi pernikahan, pihak pengantin laki-laki melakukan beberapa persiapan. Mulai dari mengumpulkan rombongan besan. Hingga mengumpulkan bingkisan-bingkisan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, untuk dibawakan dan diserahkan ke pihak perempuan. Di antara bingkisan itu ada sepasang sosok binatang buas yang biasanya ditakuti oleh manusia karena kebuasannya. Binatang tersebut adalah sepasang Buaya seukuran hampir 1 meter dengan seekor anak buaya disampingnya. Namun, kali ini binatang terebut tidak tampak kebuasannya, karena dia diikat dengan pita berwarna dan dibungkus dengan plastik bening dan dihias sedemikian rupa sehingga tampak cantik dan menarik. Kesan buas yang biasanya jadi image pada binatang tersebut seakan-akan sirna dan tergantikan oleh kesan menarik. 

Buaya tersebut bukanlah buaya sungguhan, tetapi roti buaya. Ya, roti yang dibentuk menyerupai buaya. Sepasang roti buaya dengan masing-masing didampingi oleh seekor anaknya. Roti buaya sengaja dianggap penting keberadaannya oleh masyarakat Betawi dalam acara tersebut. Acara seserahan yang dilakukan pihak lelaki kepada pihak perempuan. Bagi masyarakat Betawi, acara seserahan tanpa menyertakan Roti Buaya dianggap kurang afdhol. Sehingga, jika ada suatu acara seserahan dan rombongan besan membawa Roti Buaya, orang-orang pasti tahu kalau rombongan tersebut adalah masyarakat Betawi. Karena Roti Buaya sangat identik dengan pengantin Betawi.

Bagi kebanyakan masyarakat Betawi sendiri, Roti Buaya memiliki makna kesetiaan. Menurut informasi yang saya terima dari orang tua dulu, buaya jantan hanya kawin dengan 1 betina saja. Berbeda dengan burung merpati yang di setiap pernikahan orang-orang bule, sering dijadikan binatang ”pelengkap” dalam perayaan pernikahan. Berbeda lagi dengan buaya darat. Buaya darat merupakan julukan yang disematkan oleh masyarakat kepada lelaki yang memiliki kegemaran gonta-ganti pasangan. Roti buaya sendiri mengambil makna dari buaya asli yang selalu setia dengan pasangannya. Kalau tidak percaya, coba deh ditanyakan langsung ke buayanya. Hehehehe.. Jadi, bedakan ya antara Buaya Darat dengan Roti Buaya.

Saya teringat dengan acara pernikahan saya dulu. Saya yang merupakan putra Betawi dan tinggal di Rawa Buaya – Cengkareng, menikah dengan seorang gadis asal Jepara, Jawa Tengah. Pada saat pesta pernikahan kami, saudara dari istri saya datang dari Jepara ke Jakarta untuk mengikuti resespsi dan akad nikah kami. Ketika akad nikah, saya dan rombongan besan membawa berbagai macam bingkisan seperti halnya orang Betawi pada umumnya yang biasa disebut dengan Seserahan. Tidak ketinggalan pula sepasang roti buaya dengan seekor anak buayanya yang sudah dihias  sedemikian rupa supaya terlihat cantik dan menarik. Setelah pesta pernikahan selesai, roti buaya dibagikan ke tetangga. Tersisa tinggal 1 ekor roti buaya saja yang masih terbungkus rapi. Walhasil, roti buaya tsb dibawa oleh saudara-saudara pulang ke Jepara. Untuk dibagi-bagikan juga ke tetangga. Karena roti buaya sudah identik dengan masyarakat Jakarta. Roti Buaya tersebut dibawa tanpa dipotong-potong dulu, tetapi hanya dibungkus kertas koran saja, supaya tidak terlalu kelihatan kalau itu adalah roti buaya.

Jumat, 27 April 2012

MUDIK LEBARAN 2011 (Part 1) : Nikmatnya Rajungan


Bagi masyarakat Jakarta, setiap perayaan Hari Raya Idul Fitri atau biasa disebut dengan Lebaran sangat identik dengan yang namanya Mudik atau pulang kampung. Kegiatan mudik ini dilakukan oleh orang-orang pendatang yang tinggal dan bekerja di Jakarta. Mereka berbondong-bondong pergi meninggalkan kota Jakarta untuk menuju kampung halaman masing-masing. Ada yang pulang kampung ke daerah yang masih di Pulau Jawa, ada yang ke luar Pulau Jawa, bahkan ada yang sampai ke luar negeri. Ada yang menumpang Pesawat Terbang, Kapal Laut, Kereta Api, Bus, Sepeda Motor, bahkan ada yang mengendarai Bajaj. Bermacam-macam arah tujuannya dan angkutan yang digunakan. Namun dengan 1 tujuan yang sama, yaitu merayakan Hari Raya Lebaran di kampung halaman bersama keluarga dan sanak family. Bagi mereka kurang afdhol rasanya berlebaran tidak bersama keluarga dan orang tua.



Tidak terkecuali dengan para tetangga di sekitar rumah saya. Beberapa hari menjelang Lebaran, mereka sudah meninggalkan rumah mereka di Jakarta satu-persatu. Yang ada di Jakarta ketika Lebaran tiba adalah suasana menjadi lengang dan sepi. Jakarta yang setiap harinya selalu sibuk, macet di setiap jalan-jalannya. Ketika Lebaran tiba, berubah seolah-olah menjadi kota mati. Bahkan saya yang biasanya menempuh perjalanan berangkat dan pulang kerja paling cepat membutuhkan waktu 1 jam, pada saat-saat menjelang dan setelah Lebaran beberapa hari, hanya membutuhkan waktu paling lama setengah jam saja. Luar biasa. Jalan-jalan raya lengang dan sepi. Seolah-olah hanya saya saja yang masih ada di Jakarta. Maklumlah, saya kan kelahiran Jakarta dan asli anak Jakarta atau anak Betawi asli. Lahir dan besar di Jakarta. Dengan Bapak dan Ibu yang juga lahir di Jakarta. Bahkan semua kakek dan nenek saya juga lahir di Jakarta. Sehingga saya pun bisa dibilang putra Betawi asli.

Saya mencoba mengenang beberapa peristiwa dulu ketika saya masih kecil. Saat itu ketika masih tinggal di bilangan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Karena kami sekeluarga asli dari Kedoya. Dekat dengan Pondok Pesantren Asshidiqiyah. Dulu, ketika lebaran menjelang, banyak tetangga-tetangga yang berangkat untuk mudik lebaran. Tak terkecuali dengan para teman-teman masa kecil dulu. Mereka ikut orang tua mereka berangkat menuju kampung halaman mereka. Ada yang orang Jawa, orang Sunda, bahkan ada yang orang Ambon. Dalam benak saya ketika itu, mereka sungguh beruntung punya kampung halaman. Setidaknya setiap tahun, yaitu setiap Lebaran tiba mereka bisa jalan-jalan ke kampung halaman. Melihat pemandangan selama perjalanan, tinggal di desa dengan suasana yang masih asri. Udaranya sejuk. Bisa melihat gunung-gunung dan lautan. Oh.. betapa indahnya. Kala itu saya belum punya pemikiran bagaimana capek dan lelahnya orang-orang yang Mudik. Bahkan sampai mempertaruhkan nyawa demi mencium tangan atau memeluk orang tua mereka di Hari Raya seraya memohon maaf  kepada orang tua yang mereka anggap keramat. Mereka berkeyakinan, kesuksesan yang mereka miliki saat ini tidak lepas dari do’a orang tua mereka nun jauh disana. Saat itu saya hanya membayangkan kalau mudik itu adalah jalan-jalan, rekreasi atau semacamnya yang menyenangkan.

Sehingga akhirnya saya diberi kesempatan untuk merasakan sendiri rasanya mudik yang sesungguhnya. Ketika kakak saya (perempuan) menikah dengan seorang lelaki asal Garut, Jawa Barat. Hampir setiap tahunnya saya diajak ”pulang kampung” olehnya. Pertama kali ke Garut dengan menumpang bis. Sehingga nuansa rekreasi yang saya dapatkan kurang memuaskan. Karena selain tidak bisa menikmati pemandangan di lokasi-lokasi wisata selama perjalanan, juga di sana (Garut) saya tidak bisa leluasa jalan-jalan menyusuri kota Garut yang sejuk. Namun, pada kunjungan berikutnya, saya diajak berkendara sepeda motor berdua. Dengan bersepeda motor ini, saya mendapatkan nuansa cukup memuaskan --juga melelahkan--. Misalnya kita beristirahat di Puncak Pass. Memandangi perkebunan teh dan gunung-gunung sambil menghirup udara pegunungan yang segar. Dan ketika di Garut, saya diajak berkeliling dengan sepeda motor menyusuri kota Garut yang indah dan sejuk. Banyak gunung di sana. Sawah-sawah. Enak sekali dipandangnya. Ahh... nikmatnya. Walaupun dalam perjalanan sempat mengalami macet, setidaknya efek kemacetan yang saya rasakan jadi berkurang. Hampir setiap tahun kami berangkat dengan hanya berkendara sepeda motor saja.

Terakhir kali ikutan mudik ketika Lebaran tahun 2011 yang lalu. Ketika itu, kami mudik ke Jepara, Jawa Tengah. Lebih jauh dari Garut. Kali ini tidak dengan kakak ipar dan tidak mengendarai sepeda motor. Tapi dengan istri dan mertua sekeluarga. Dengan mengendarai mobil Isuzu Panther dan menyewa supir. Istri saya kelahiran Jepara, Jawa Tengah. Hanya saja besarnya di Jakarta. Jepara yang lebih dikenal sebagai kota ukir. Kota kelahiran pahlawan nasional R.A. Kartini. Pahlawan bagi kaum perempuan Indonesia. Yang katanya memperjuangkan emansipasi perempuan. Yang makna emansipasi itu sendiri sudah banyak dipelintirkan oleh sekelompok orang demi kepentingan mereka sendiri. Pahlawan yang terkenal dengan kalimat ”Habis Gelap Terbitlah Terang”. Yang setiap tahunnya dirayakan senasional sebagai Hari Kartini setiap tanggal 21 April.

Kami berangkat Sabtu malam tanggal 27 Agustus 2011, sekitar jam 10 an dari Jakarta. Dan baru tiba di Jepara hari Senin dini hari jam 3 an pas makan sahur. Jadi, menempuh perjalanan selama sekitar 29 jam-an. Dari waktu normal Jakarta – Jepara yang hanya 12 jam saja dengan menumpang bis malam. Ya iyalah, membandingkan dengan bis malam di hari-hari biasa. Tahu sendiri kan kalo bis malam itu tidak ada yang jalan. Semua pada lari. Hehehe.. alias bis malam itu kalau di jalan raya cepat sekali jalannya. Hari Minggunya makan sahur di daerah pertigaan Nagrek. Karena kondisi jalan padat merayap, jam 4-an kami baru tiba di Nagrek. Hawa dingin terasa sekali menusuk tulang. Makan sahur sambil istirahat sejenak. Kami sengaja lewat jalur Nagrek atau jalur selatan, karena di jalur Utara pastinya akan lebih parah kemacetannya. Bahkan kami sempat mengalami antrian di jalan tol. Tepatnya kepadatan terjadi di arah menuju Subang yang merupakan jalur Pantura. Kami ambil jalan lurus dan keluar di pintu Tol Cileunyi. Putar balik ke kana lewat jalur Nagrek. Selepas makan sahur yang hanya beberapa menit saja, kami melanjutkan perjalanan sambil mencari masjid untuk sholat subuh. Selesai Sholat Subuh, melanjutkan kembali perjalanan. Kondisi jalan masih padat merayap sampai ke Ciamis. Kami lewat jalur Selatan dan masuk Pantura melalui Slawi dan keluar di Tegal. Alhamdulillah jalur Pantura dari Tegal ke Jepara tidak ada kemacetan yang berarti. Lancar-lancar saja.

Setiba di Jepara hari senin sekitar jam 3 dini hari atau pas waktu makan sahur. Tak disangka kami sudah ditunggu-tunggu kedatangannya oleh keluarga yang di Jepara. Setibanya di rumah, kami disuguhkan masakan Sea Food. Yaitu Rajungan kuah kuning. Asal tahu saja, rajungan merupakan salah satu makanan favorit ketika kecil. Namun, keberadaannya kini sudah jarang sekali. Jarang ada tukang ikan di pasar yang menjajakan rajungan. Kami makan dengan lahapnya. Alhamdulillah. Bagi saya, makan dengan lauk rajungan memiliki cerita sendiri. Yaitu ketika kecil dan belum sekolah, setiap pagi selalu lewat tukang ikan yang berjualan keliling dengan sepedanya. Kami biasa memanggilnya Bang Samin. Pada suatu hari, seperti biasa Bang Samin berhenti di depan rumah. Saya yang pertama kali melihat rajungan, belum kenal apa namanya. Saya hanya menyebutnya dengan sebutan binatang. Kemudian saya memanggil emak (Ibu) saya. “Mak.. beliin binatang dong mak... “. Emak saya bingung, binatang apa yang saya maksud. Ketika saya tunjukkan, barulah beliau tahu binatang apa yang membuat saya sedikit memaksa untuk dibelikan. “Ini namanya rajungan, bukan binatang” begitu penjelasan emak saya. Besok-besoknya, setiap Bang Samin datang dengan membawa rajungan, pastinya saya minta emak untuk membelikan. Emak juga sudah memesan ke Bang Samin, kalo bawa rajungan, tolong disisakan buat saya. Jadinya, setiap kali Bang Samin bawa rajungan, dia pasti memanggil saya “Edy, ada binatang nih Ed.. Mao kaga ?” Jawabannya pasti mau.