Jumat, 27 Juli 2012

Hal-Hal yang Diperbolehkan dalam Berpuasa

Pada bagian ini kami paparkan hal-hal yang diperbolehkan dalam berpuasa. 

1. Keluar sperma dan menyelam dalam air.
Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Abdurrahman dari beberapa orang sahabat Nabi saw yang bercerita kepadanya:
"Sungguh, saya telah melihat Rasulullah saw menuangkan air ke atas kepalanya sewaktu beliau berpuasa, disebabkan haus atau kepanasan." (HR Ahmad, Malik dan Abu Daud dengan sanad yang sahih)
Dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim disebutkan oleh Aisyah ra, "Bahwa Nabi saw di waktu subuh berada dalam keadaan junub, sedang beliau berpuasa, kemudian beliau mandi."
Jika kebetulan air itu masuk ke dalam rongga perut orang yang berpuasa dengan tidak sengaja, maka puasanya tetap sah.

AIR MATA RINDU


Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya.
-----
Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid.

Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah.

Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan.

Asy...hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad. ..

Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan.

Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputus. Salah satu kalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH.

Asy...ha..du. .annna...

Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh. Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong.

Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal. Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq ra. tahu. Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan.

Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah SAW berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah SAW menjodohkannya. Saat itu Rasulullah meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, "Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya." Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak.

Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, "Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat." lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung. Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat.

Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, "Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat." Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena sudah diingatkan akan waktu shalat.

Bilal teringat, saat shalat 'Ied dan shalat Istisqa' ia selalu berjalan di depan Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah SAW. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab ra., satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih.

Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.
Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin.
----
Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad SAW, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya.

Umar bin Khattab berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-Nya. Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk. "Hanya sekali", bujuk Umar. "Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?"
Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh..

Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasululla h

Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan.

Asyhadu anna Muhammadarrasululla h

Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata.

Hayya 'alash-shalah, hayya 'alash-shalah

Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid.

Hayya `alal-falah, hayya `alal-falah

Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya?

La ilaha illallah

Tiada tuhan selain ALLAH. Jika engkau menuhankan Muhammad, ketahuilah bahwa ia telah wafat. ALLAH Maha Hidup dan tak akan pernah mati.
----
Tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun. Sang istri di sampingnya tak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya.
"Jangan menangis," katanya kepada istri. "Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah SAW dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika ALLAH mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari."

Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Pria yang suara langkah terompahnya terdengar sampai surga saat ia masih hidup, berada dalam kebahagiaan yang sangat. Ia bisa kembali bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan. Ia bisa kembali menemani Rasulullah, seperti sebelumnya saat masih di dunia.

Kepada Siapa Puasa itu Diwajibkan?



Para ulama telah sepakat (ijma') bahwa puasa itu wajib atas orang Islam yang berakal, baligh, sehat dan menetap (tidak sedang bepergian). Sedangkan seorang wanita hendaklah ia suci dari haidh dan nifas.
Oleh sebab itu, tidak wajib puasa atas orang kafir, orang gila, anak-anak, orang sakit, musafir, perempuan yang sedang haidh dan nifas. Begitu pula orang tua, perempuan hamil atau yang sedang menyusui.
Di antara mereka, ada yang tidak wajib berpuasa atasnya sama sekali, seperti orang kafir atau orang gila, ada pula yang diminta agar orang tuannya menyuruhnya berpuasa (mereka adalah anak-anak), ada yang diperbolehkan berbuka dan wajib mengqadha (orang sakit dan musafir), ada yang wajib berbuka dan wajib mengqadha (perempuan yang haidh dan nifas) dan ada yang diberi keringanan berbuka, tetapi diwajibkan membayar fidyah (orang yang sudah tua-renta, baik laki-laki maupun perempuan).

Orang Kafir dan Orang Gila
Puasa itu merupakan ibadah islamiyah, sehingga tidak wajib bagi orang-orang yang tidak beragama Islam. Orang gila tidak termasuk mukallaf, karena dia kehilangan akal yang menjadi tempat bergantungnya taklif. Rasulullah saw besabda, "Pena (beban taklif) itu diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang yang gila sampai akalnya sehat, dari orang tidur sampai ia bangun, dan dari anak kecil sampai ia baligh." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

Puasa Anak-Anak
Mengenai anak-anak -walaupun mereka tidak wajib berpuasa- sepatutnya walinya menyuruhnya agar mereka mengerjakannya, supaya mereka dapat membiasakannya dari kecil, yakni selama anak itu dapat dan mampu. Diterima dari Rubaiyi' binti Muawwidz bahwa Rasulullah saw -pada pagi hari 'Asyura- mengirim utusan ke desa-desa kaum Anshar untuk menyampaikan:
"Siapa yang telah berpuasa dari pagi hari hendaklah ia meneruskan puasanya, dan siapa yang dari pagi telah berbuka, hendaknya ia mempuasakan hari yang tersisa! Maka, setelah itu pun kami berpuasa, kami bawa mereka ke masjid, kami buatkan mereka semacam alat permainan dari bulu domba. Lalu, jika ada di antara mereka yang menangis karena minta makan, kami berikan kepadanya alat permainan itu. Demikianlah berlangsung sampai dekat waktu berbuka." (HR Bukhari dan Muslim).

Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Membayar Fidyah
Orang yang telah dimakan usia (tua-renta), baik laki-laki maupun perempuan, orang sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya dan orang-orang yang mempunyai pekerjaan berat yang tidak mendapatkan pekerjaan lain diberi keringanan berbuka, yakni jika berpuasa itu akan memberatkan mereka sepanjang musim dalam tahun itu. Dan sebagai tebusannya mereka wajib memberi makan seorang miskin untuk setiap hari berpuasa. Sedangkan banyaknya makanan itu terdapat perselisihan di antara ulama -karena dalam Sunnah sendiri tidak disebutkan- tetapi ada yang mengatakan 1 mud untuk 1 hari tidak puasa dan 1 mud = 6 ons makanan pokok.
Ibnu Abbas berkata, "Diberi keringanan kepada orang yang sudah lanjut usia untuk berbuka, untuk setiap harinya hendaklah ia memberikan makan seorang miskin dan ia tidak perlu mengqadha."
Bukhari meriwayatkan dari 'Atha' bahwa ia mendengar Ibnu Abbas ra membaca ayat, "Wa 'alal Ladziina Yuthiquunahu Fidyatun Tha'amu Miskiinin". (Bagi orang-orang yang sulit melakukan puasa, hendaklah membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin." (Al-Baqarah: 184)
Ibnu Abbas berkata, "Ayat itu tidaklah dinasakh/dihapus. Maksudnya adalah bagi orang tua lanjut usia, baik laki-laki maupun wanita yang telah tidak sanggup berpuasa, hendaklah memberi makan seorang miskin untuk setiap hari mereka tidak berpuasa."
Begitu pula orang sakit yang tidak ada harapan sembuh lagi dan tidak kuat berpuasa, hukumnya sama dengan orang tua-renta, tidak ada bedanya. Demikian pula halnya kaum buruh yang bergulat dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

Orang yang Boleh Berbuka dan Wajib Mengqadha
Orang sakit yang masih ada harapan kesembuhannya dan musafir dibolehkan bagi keduanya untuk berbuka dan wajib mengqadha. Allah SWT berfirman, "Siapa yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan, hendaklah ia mengqadha pada hari-hari yang lain." (Al-Baqarah: 184).
Orang yang sehat yang takut akan jatuh sakit disebabkan berpuasa boleh berbuka seperti orang yang sakit. Demikian juga orang yang amat kelaparan atau kehausan hingga mungkin celaka (mati), hendaklah berbuka dan mengqadha, walaupun ia seorang yang sehat dan bukan musafir. Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu bunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Pengasih terhadapmu." (An-Nisaa': 29).
"Tidaklah Allah menyebabkan timbulnya kesulitan bagimu dalam agama." (Al-Hajj: 78).
Dan seandainya orang sakit itu berpuasa dan rela menanggung penderitan, puasanya sah. Hanya saja, tindakannya itu makruh hukumnya, karena ia tak ingin menerima keringanan yang disukai Allah SWT dan siapa tahu mungkin ia dapat bahaya karenanya.

Rukun Puasa
Rukun puasa ada dua, dan keduanya merupakan unsur terpenting dari hakikat puasa itu. Kedua rukun tersebut adalah pertama, niat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, "Dan tiadalah mereka diperintah kecuali untuk mengabdikan diri kepada Allah SWT dan mengikhlaskan agama kepada-Nya semata." (Al-Bayyinah: 5).
Dan, sabda Nabi saw, "Setiap perbuatan itu hanyalah dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh apa yang diniatkannya."
Niat tersebut hendaknya dilakukan sebelum terbitnya fajar (masuknya waktu subuh) pada tiap malam bulan Ramadhan, berdasarkan hadis Hafshah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa tidak membulatkan niatnya untuk melakukan puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya." (HR Ahmad dan Ashhabus Sunan serta dinyatakan sahih oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

Niat itu sah pada salah satu saat di malam hari, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena ia merupakan pekerjaan hati dan tidak ada sangkut-pautnya dengan lisan. Hakikat niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi menaati perintah Allah SWT dalam mengharapkan keridhaan-Nya. Oleh karena itu, siapa saja yang makan sahur dengan maksud akan berpuasa dan dengan menahan diri ini bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, berarti ia telah berniat. Begitupun orang yang bertekad akan menghindari segala hal yang dapat membatalkan puasa di siang hari dengan ikhlas karena Allah SWT, juga berarti telah niat, walaupun ia tidak makan sahur.

Kemudian, menurut kebanyakan fuqaha', niat puasa tathawwu' (puasa sunnah) itu cukup bila waktu siang, yakni jika seseorang belum lagi makan-minum. Aisyah berkata, "Pada suatu hari Rasulullah saw datang ke rumah, lalu Rasulullah bertanya, 'Apakah ada makanan padamu', Aisyah menjawab, 'Tidak ada', kemudian Rasul bersabda, 'Kalau begitu, saya akan berpuasa'." (HR Muslim dan Abu Daud).

Sementara, golongan Hanafiah mensyaratkan bahwa niat itu hendaklah terjadi sebelum zawal atau tergelincirnya matahari. Pendapat seperti ini juga merupakan pendapat yang populer di antara kedua pendapat Imam Syafi'i. Akan tetapi, Ibnu Mas'ud dan Ahmad, menurut lahir ucapan mereka, niat itu tercapai, baik sebelum atau sesudah zawal, keduanya tidak ada bedanya.

Kedua, menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT, "Maka sekarang, boleh kamu mencampuri mereka, dan hendaklah kamu mengusahakan apa yang diwajibkan Allah atasmu, dan makan-minumlah hingga nyata garis putih dari garis hitam berupa fajar, kemudian sempurnakanlah puasa sampai malam." (Al-Baqarah: 187).

Yang dimaksud dengan garis putih dan garis hitam adalah terangnya siang dan gelapnya malam. Hal tersebut berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa 'Adi bin Hatim bercerita tatkala turun ayat yang artinya, "... hingga nyata benang putih dari benang hitam berupa fajar...", saya ambil seutas tali hitam dengan seutas tali putih, lalu saya amat-amati di waktu malam, dan ternyata tidak dapat saya bedakan. Kemudian, pagi-pagi saya mendatangi Rasulullah saw dan saya menceritakan apa yang terjadi pada saya kepadanya, lalu Rasul bersabda, "Maksudnya adalah gelapnya malam dan terangnya siang."

Sumber: Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Puasa Ramadhan

Mesjidil Harom
Puasa itu ada dua macam, puasa fardhu dan puasa tathawwu' atau puasa sunnah. Puasa fardhu ada tiga macam, yaitu puasa Ramadhan, puasa Kaffarah dan puasa Nadzar.
Puasa Ramadhan adalah salah satu kewajiban yang di bebankan oleh Allah SWT kepada kita. Ia merupakan rukun Islam yang keempat. Kewajiban tersebut ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian puasa Ramadhan sebagaimana diwajibkannya puasa itu kepada umat-umat yang terdahulu sebelum kalian, agar kalian bertaqwa." (Al-Baqarah: 183).

Arti Puasa
Puasa secara bahasa (Etimologi) berarti al-imsaak (menahan). Maksudnya menahan dari apa saja. Menahan dari bicara berarti puasa bicara, menahan dari tidur berarti puasa tidur, menahan dari makan dan minum berarti puasa makan dan minum, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT di bawah ini:
"Inni Nadzartu lirrahmaani Shauma" (sesungguhnya aku bernadzar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih untuk berpuasa). (Maryam: 26). Puasa di sini maksudnya menahan diri dari berbicara.
Sedang menurut istilah ulama fiqh (terminologi), puasa berarti menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa disertai niat pada malam harinya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari..


Keutamaan Puasa 

1. Puasa itu untuk Allah (sebagai penghargaan dari-Nya), bukan untuk manusia. Artinya Allah-lah yang langsung membalasnya.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw, Allah Azza wa Jalla berfirman (dalam hadis Qudsi-Nya), "Semua amalan manusia adalah untuk dirinya, kecuali puasa, maka itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberinya ganjaran Puasa itu merupakan benteng, maka ketika datang saat berpuasa, janganlah seorang berkata keji atau berteriak-teriak atau mencai-maki. Seandainya dia dicaci oleh seseorang atau diajak berkelahi, hendaknya dia menjawab, 'saya ini berpuasa' dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada 'tangan'-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum daripada bau minyak kesturi. Dan orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan yang menyenangkan hati, yaitu di saat berbuka, ia akan bergembira dengan berbuka itu dan di saat ia menemui Tuhannya nanti, ia akan bergembira dengan puasanya." (HR Muslim, Nasa'i dan Ahmad).
Dalam riwayat yang lain disebutkan, "Puasa itu merupakan benteng. Maka jika salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah ia berkata keji dan mencaki-maki. Seandainya ada orang yang mengajaknya berkelahi atau mencaci-makinya, hendaklah ia berkata, 'saya ini berpuasa' dua kali. Demi Allah yang jiwa raga Muhammad berada pada tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari bau minyak kesturi. Ia meninggalkan makan dan minum dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku akan memberinya pahala. Sedang setiap kebajikan itu akan mendapat pahala sepuluh kali lipat." (HR Bukhari dan Abu Daud)

2. Apabila puasa itu dilaksanakan dengan baik dan benar, ia akan bisa memberikan syafa'at kepada orang yang melakukannya.
"Puasa dan Alquran itu akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, 'Ya Tuhan, Engkau larang ia makan dan memuaskan syahwatnya di waktu siang dan sekarang ia meminta syafaat kepadaku karena itu'. Lalu Alquran pun berkata, 'Engkau larang ia tidur di waktu malam, sekarang ia meminta syafaat kepadaku mengenai itu.' Akhirnya, syafaat kedua mereka pun di terima oleh Allah SWT." (HR Ahmad dengan sanad yang sahih).

3. Puasa akan dapat memasukkan orang yang melakukannya ke sorga dan menjauhkannya dari neraka.
Dari Abu Umamah berkata, saya datang kepada Rasulullah saw lalu saya berkata kepadanya, "Perintahlah aku dengan semacam amal yang akan dapat memasukkanku ke sorga", maka Nabi saw bersabda: "Hendaklah kamu berpuasa, karena puasa itu tidak ada tandingannya". Lalu aku datangi Nabi untuk kali keduanya, maka Nabi saw bersabda: "Hendaklah kamu berpuasa." (HR Ahmad, Nasa'i dan Hakim seraya menshahihkannya).
Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, Nabi saw bersabda, "Tidaklah seorang hamba itu berpuasa satu hari karena Allah kecuali Allah mesti menjauhkan dirinya dari neraka sebab puasa itu selama tujuh puluh tahun." (HR al-Jama'ah [sekelompok ulama hadis] kecuali Abu Daud).
Dari Sahl bin Sa'd, Nabi saw bersabda, "Sesungguhnya sorga itu mempunyai sebuah pintu yang disebut 'ar-Rayyan' (artinya basah yang melimpah). Pada hari Kiamat akan dipanggil-panggil: "Hai, mana orang-orang yang berpuasa?" Lalu bila orang yang terakhir dari mereka telah masuk, maka pintu itu pun ditutupkanlah." (HR Bukhari dan Muslim).


Keutamaan Bulan Ramadhan

1. Pintu-pintu sorga (jalan-jalan menuju kebaikan) dibuka, pintu-pintu neraka (jalan-jalan menuju amal jelek) ditutup dan syetan-syetan (provokator amal kejahatan) dibelenggu Allah SWT.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda -yakni ketika datang bulan Ramadhan-, "Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kamu berpuasa. Pada bulan itu pintu-pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang nilainya lebih berharga daripada seribu bulan. Maka, barangsiapa tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh ia tidak akan mendapatkan kebaikan itu selama-lamanya." (HR Ahmad, Nasa'i dan Baihaqi).

2. Orang yang melakukan kebaikan di bulan itu diperintah berbahagia dan orang yang melakukan kejahatan di bulan itu diperintah berhenti.
"...dan seorang malaikat akan berseru, 'Wahai pencari kebaikan, bergembiralah. Wahai pecinta kejahatan, berhentilah." (HR Ahmad dan Nasa'i dengan sanad yang baik).

3. Puasa Ramadhan yang kita lakukan ini menjadi pelebur atas dosa -dosa yang telah kita lakukan dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, "Salat yang lima waktu, Salat Jum'at yang satu ke salat Jum'at yang lain itu menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat di antara masing-masing selama dosa besar itu dijauhi." (HR Muslim).

4. Apabila puasa Ramadhan itu dilakukan dengan ikhlas, maka diampunilah semua dosa-dosanya yang telah lampau.
Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharapkan ridha Allah SWT, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang terdahulu." (HR Ah Ahmad, dan Ashabus Sunan).


Referensi:
1. Fiqhus Sunnah, Sayyid sabiq
2. Tamamul Minnah, Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani

Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Rabu, 25 Juli 2012

Mudik Lebaran (Part 2) : Sholat Ied 1432 H (2011) di Kampung Orang

di Pantai Kartini


Hari-hari di Jepara kami lalui dengan berpuasa, “menghabiskan” sisa hari di bulan Ramadhan menjelang Lebaran. Walaupun cuaca saat itu cukup panas (lebih panas dari Jakarta lho), bahkan menurut saudara istri saya di Jepara jarang sekali turun hujan. Sehingga menambah daftar godaan selama berpuasa di sana. Tapi Alhamdulillah selama niat kita mantab, sisa hari puasa di Jepara dapat kami lalui dengan sempurna. Bahkan selama perjalanan menuju Jepara yang mana di hari Minggunya kami masih di jalan sambil berpuasa, dapat kami lalui sampai Maghrib tiba. Hari Senin yang merupakan hari pertama kami di Jepara dan juga H-2 Lebaran, kami lalui dengan beristirahat dan bermalas-malasan di rumah Bude (Bibi) istri saya. Sambil ngobrol dan bercerita dengan saudara-saudara dan kerabat di sana. Kami menceritakan segala hal, mulai dari perjalanan kami ke Jepara yang cukup memakan waktu sampai hal-hal lainnya. Sehingga waktu sudah sore, menjelang waktu berbuka puasa. Kami berbuka puasa di rumah saja. Selain dikarenakan waktu Sholat Maghrib yang hanya sebentar saja ---kalau berbuka di luar, khawatir waktunya tidak cukup untuk sholat Maghrib---, malam itu kalau mengikuti kalender seharusnya sudah malam takbiran yang keesokannya adalah hari Raya Iedul Fitri 1432 H, namun belum ada keputusan dari Pemerintah. Maka, kamipun menunggu keputusan Pemerintah dengan bersama-sama menonton acara sidang Ishbat penentuan akhir Ramadhan di televisi. Sehingga menghasilkan keputusan kalau Puasa Ramadhan ditambah 1 hari lagi. Berarti hari Lebaran adalah esok lusa. 
Esok sorenya, sambil menunggu waktu berbuka puasa, kami menyempatkan diri untuk belanja ukir-ukiran khas kota Jepara. Di sebuah jalan (saya lupa nama jalannya), banyak sekali toko-toko yang menjual barang-barang ukir-ukiran seperti pot bunga, tempat menyimpan gelas air mineral, jam dinding, kaligrafi, serta ukir-ukiran hiasan lainnya sampai bufet dan lemari. Di sana saya hanya membeli sebuah lekar ukir untuk meletakkan Al Quran ketika kita akan membacanya. Istri saya membeli hiasan sepeda ontel kayu dan jam dinding kayu model sauh kapal laut. Semua ukir-ukiran itu murni terbuat dari kayu jati. Sekembalinya dari toko ukiran, kami tidak langsung pulang ke rumah. Kami diajak sama mas Tasrif (kakak ipar) untuk melihat-lihat koleksi pohon bonsainya. Dia mengajak kami ke sebuah kebun yang disana banyak sekali pohon bonsai yang dirawat oleh beliau dan teman-temannya. Bagus-bagus sekali pohon-pohon koleksinya. Bahkan ada pohon yang timbuh di atas batu atau batang pohon yang sudah kering, namun tumbuh ranting kecil hijau dan daun-daun segarnya. Ketika sudah hampir maghrib, kami segera pulang untuk berbuka puasa di rumah. Sekaligus merayakan malam takbiran. 


Ukiran Khas Jepara
Akhirnya malam takbiran pun tiba. Kami keliling kota Jepara. Katanya, kalau malam takbiran disini ramai, ada pawai, karnaval dari anak-anak sampai orang dewasa. Ternyata benar. Baru saja kami keluar rumah, dikejutkan dengan suara lantunan takbir yang menggema. Walaupun sumber suaranya masih jauh, namun gema takbirnya membahana sampai ke telinga. Dari kejauhan kami melihat nyala api yang berkobar di ujung obor. Ada hiasan kembang kelapa. Anak-anak yang memainkan bedug sambil bertakbir. Sungguh pemandangan yang jarang saya temui di ibukota Jakarta. Meriah sekali suasananya.

ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR.. ALLOHU AKBAR..
LAA ILAAHA ILLALLOHU ALLOHU  AKBAR..
ALLOHU AKBAR WALILLAHILHAM..

Takbir Keliling
Dari rumah, kami berjalan berkeliling kota Jepara dan menuju ke alun-alun kota yang berdekatan dengan museum KARTINI. Di sana, menurut informasi yang saya terima, ada acara Festival Bedug antar Sekolah Menengah Atas se-Jepara. Wahh... Jadi penasaran. Karena selama ini saya hanya melihat acara Festival Bedug melalui televisi. Di perjalanan, saya menjumpai suasana yang tidak asing saya jumpai di Jakarta ketika malam takbiran. Yaitu, antrean sepeda motor untuk memasuki tempat acara. Penuh sesak dan macet. Walaupun tidak separah Jakarta, saya kaget juga karena masyarakat Jepara lebih suka pawai keliling kota menggunakan sepeda motor, sama halnya dengan masyarakat Jakarta. Kami tiba di alun-alun dan langusng menuju ke depan panggung untuk lebih menikmati acara. Tak beberapa lama acara dimulai setelah sebelumnya diisi dengan sambutan oleh para petinggi Kota Jepara. Para pesertanya adalah para siswa-siswi SMK-SMA se JEPARA. Meriah sekali acara tersebut. Dan penampilan para pesertanya sungguh luar biasa. Bahkan juga ada acara pesta kembang apinya. Ramai dan meriah sekali alun-alun Kota Jepara ini, seolah-olah semua masyarakat Jepara berkumpul di satu tempat ini. Sekitar jam 10 malam, kami memutuskan untuk pulang, karena besok harus bangun pagi-pagi untuk sholat Ied.

Ketika hari Lebaran tiba, kami sholat Ied di mesjid terdekat. Seumur-umur, belum pernah yang namanya berlebaran dan Sholat Ied di kampung orang. Saya selalu merayakan Hari Lebaran dan sholat Ied di Jakarta. Setiap tahunnya, setelah pulang dari Sholat Ied, saya selalu mencium tangan, mencium pipi kanan dan kiri seraya memeluk erat tubuh kedua orang tua. Sebagai tanda hormat dan takzim saya kepada beliau. Sehingga air mata menetes tatkala mengingat kenakalan-kenakalan yang sering saya lakukan kepada mereka.  Pada saat Sholat Ied, Khotib membacakan khutbah yang cukup membuat saya terharu. Khutbah tersebut berhasil membuat air mata menetes di pipi. Memang bahasa yang digunakan ada bahasa Jawanya yang saya tidak mengerti. Namun juga dicampur dengan bahasa Indonesia, sehingga saya menangkap maksud dari khutbahnya. Intinya sang Khotib menekankan untuk menghormati kedua orang tua. Hari Lebaran ini adalah momen yang pas untuk kita saling bermaaf-maafan, terutama kepada orang tua yang telah berjasa melahirkan dan membesarkan kita. Bahkan orang tua senantiasa berdo’a untuk semua kebaikan kita. Hal inilah yang membuat kepala saya tertunduk dan mengenang kembali kenakalan-kenakalan saya kepada mereka. Saya belum bisa membuat mereka bangga dan bahagia. Sampai saat ini hanya do’a yang bisa saya panjatkan untuk mereka. Air mata menetes dan membasahi pipi. Sungguh sebuah pengalaman pertama berlebaran di kampung orang dan jauh dari orang tua.

Selesai Sholat Ied saya pun kemudian mengambil Handphone dan mencoba menelepon ke Jakarta. Ternyata Nomor yang saya tuju tidak diangkat teleponnya. ”Ahh.. Nanti siang-siangan saja. Mungkin sekarang lagi pada sibuk bersilaturahmi dengan tetangga” pikirku. Nuansa dan suasana Lebaran di Jepara tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Yang muda berkeliling mengunjungi yang tua. Meminta maaf dan saling cipika cipiki bagi kaum wanitanya. Kami yang lelaki cukup berjabat tangan saja. Makanan dan minumannya pun tidak jauh berbeda dengan yang ada di Jakarta saat ini. Terutama Kacang Gorengnya, sama saja. Siangnya saya mencoba menelepon kembali ke Jakarta. Yang menerima ibu saya yang biasa saya panggil dengan sebutan emak. Tanpa sempat berkata-kata, air mata langsung membasahi pipi. Dengan terbata-bata, saya meminta maaf kepada beliau dan semuanya. Di ujung telepon, saya mendengar suara serak-serak basah emak saya yang juga sedang menahan emosinya untuk tidak terlalu larut dalam tangisan. Alhamdulillah. Hati serasa plong setelah mendengar suara emak. Sungguh hebat jaman sekarang, walaupun terpisah oleh jarak yang cukup jauh, kita masih bisa berkomunikasi dengan orang lain. Subhanalloh.

Keesokan harinya yaitu hari Kamis, 01 September 2011 pagi, kami bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta. Rencananya kami pulang ke Jakarta hari Rabu. Namun, karena keputusan Pemerintah yang menyatakan bahwa tanggal 1 Syawal 1432 H atau Hari Raya Iedul Fitri jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011, padahal di kalender menunjukkan tanggal 30 Agustus 2011 untuk Hari Raya Iedul Fitri 1432 H. Sehingga liburan kami jadi bertambah 1 hari. Kami mengecek kondisi mobil, apakah masih stabil atau ada yang bermasalah. Alhamdulillah kondisi mobil masih sehat-sehat saja. Sebelum berangkat pulang, kami sekeluarga besar menyempatkan untuk foto-foto di depan rumah. 3 generasi berfoto bersama. Mulai dari bude yang paling ”senior” di antara kami, kami sebagai anak-anaknya, hingga keponakan-keponakan kami. Akhirnya, jam 9 pagi kit meluncur berangkat menuju Jakarta, setelah berpamitan dengan semuanya. Kami sengaja mengambil waktu pulang hari itu, karena kami memprediksi kalau saat itu suasana lalu lintas untuk arus balik masih agak sepi. Karena baru H+1. Alhasil, sepanjang perjalanan tidak ada kemacetan yang berarti. Perjalanan lancar-lancar saja. Kami lewat Jalur Pantura, melalui Kudus, Semarang, Pemalang, Pekalongan, Brebes, Tegal, Cirebon, Indramayu.

Saya duduk di bangku depan samping sopir. Penumpang yang lain, termasuk istri saya terlelap tidur karena kelelahan di sepanjang perjalanan. Saya tidak bisa tidur, karena inilah impian saya. Menikmati perjalanan jauh. Sepanjang perjalanan mata saya memandang kesana kemari menikmati pemandangan di setiap kota yang kami lewati. Saya juga bertugas sebagai semacam Navigator bagi sang supir. Supir mengendarai kendaraan dengan penuh konsentrasi, saya sibuk menajamkan penglihatan saya membaca plang arah tujuan yang terpasang di setiap perempatan atau lampu merah. Alhamdulillah, sekitar jam 2 dini hari Jum’at 02 September 2011, kami tiba di rumah dengan selamat dan utuh tidak kekurangan suatu apapun. Kedatangan kami rupanya ditunggu-tunggu sama orang tua saya. Mereka tidak bisa tidur menunggu kedatangan kami. Alhamdulillah kami tiba di Jakarta dengan selamat. Sungguh pengalaman Mudik yang menyenangkan dan juga melelahkan. Saya baru tahu rasanya mudik yang sebenarnya. 

Terdampar di Pinggir Pantai

Sementara di Lebaran Tahun 2012/ 1433 H ini, sepertinya kami tidak akan kemana-mana. Hal ini dikarenakan kami mempunyai urusan yang lebih penting. Yaitu menyambut kehadiran calon anggota baru di keluarga kami. Ya.. Insya ALLAH istri saya akan melahirkan di bulan Agustus yang bertepatan dengan bulan Puasa tahun ini. Tepatnya Insya ALLAH 1 minggu sebelum Lebaran menurut perhitungan dokter yang memeriksa kandungan istri saya. Mohon do’anya ya, semoga istri saya dan bayi yang dikandungnya diberi kesehatan, dilancarkan dan dipermudah persalinannya nanti. Dan keduanya diberikan keselamatan dan kesehatan serta umur yang panjang. Semoga kita semua juga senantiasa diberi kesehatan dan umur yang panjang. Aamiin Allahumma aamiin.

Saidi, Jakarta 27 April 2012